digtara.com -Sebanyak 21 ekor paus pilot terdampar dan ditemukan mati di perairan surut Desa Fuafuni, Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao, Selasa (10/3/2026).
Personel Satuan Brimob Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama sejumlah instansi terkait berupaya mengevakuasi.
Evakuasi melibatkan 15 personel Kompi 3 Batalyon A Pelopor Satbrimob Polda NTT, personel Lanal Pulau Rote, anggota Polsek Rote Barat Daya, serta petugas dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Kabupaten Rote Ndao, Dinas Peternakan Kabupaten Rote Ndao, dan masyarakat setempat.
Dansat Brimob Polda NTT, Kombes Pol Afrizal Asri mengatakan bahwa evakuasi dilakukan sebagai upaya mencegah dampak negatif bagi kesehatan masyarakat serta menjaga kelestarian lingkungan di sekitar lokasi kejadian.
Baca Juga: Terjebak di Perairan Dangkal, Enam Ekor Paus Pilot Diselamatkan dan Empat Ekor Mati "Evakuasi bangkai paus ini dilakukan untuk mencegah dampak lingkungan maupun gangguan kesehatan masyarakat akibat proses pembusukan, sekaligus memastikan penanganannya dilakukan sesuai prosedur yang berlaku," ujar Kombes Pol Afrizal Asri pada Selasa (10/3/2026) malam.
Kegiatan diawali dengan apel pengecekan personel sebelum tim menuju lokasi kejadian di Desa Fuafuni.
Tim gabungan langsung melakukan proses evakuasi terhadap paus pilot yang terdampar di perairan surut wilayah tersebut.
Proses evakuasi dilakukan secara gotong royong oleh personel Brimob, anggota TNI AL dari Lanal Pulau Rote, anggota Polsek Rote Barat Daya, serta masyarakat setempat.
Setelah proses evakuasi selesai, bangkai paus kemudian dikuburkan menggunakan alat berat ekskavator milik Pemerintah Kabupaten Rote Ndao guna mencegah pencemaran lingkungan.
Proses penguburan seluruh bangkai paus pilot selesai dilaksanakan pada Selasa petang.
Baca Juga: Terdampar di Perairan Rote Ndao, Segerombolan Ikan Paus Pilot Diselamatkan Polisi Seluruh personel kembali ke markas setelah memastikan lokasi dalam kondisi aman.
Kombes Pol Afrizal Asri mengakui penanganan paus terdampar dilakukan melalui koordinasi dengan instansi terkait agar sesuai dengan standar penanganan satwa laut yang dilindungi.
"Penanganan dilakukan secara terpadu bersama instansi terkait, termasuk identifikasi jenis paus dan pengambilan sampel ilmiah sebelum dilakukan penguburan secara aman dan ramah lingkungan," jelasnya.
Ia juga mengapresiasi kepedulian masyarakat Desa Fuafuni yang turut membantu proses evakuasi serta menunjukkan perhatian terhadap pelestarian satwa laut.
"Partisipasi masyarakat sangat baik. Ini menunjukkan kesadaran yang tinggi terhadap pentingnya menjaga kelestarian satwa laut di wilayah pesisir," tambahnya.
Pelaksanaan kegiatan tersebut oleh tim gabungan masih menghadapi kendala berupa keterbatasan sarana dan prasarana pendukung untuk proses evakuasi.
Kedepan, diharapkan masyarakat dapat segera melaporkan kepada pihak berwenang apabila menemukan satwa laut yang terdampar agar dapat segera ditangani dengan cepat dan tepat.
Baca Juga: Terjebak di Perairan Dangkal, Enam Ekor Paus Pilot Diselamatkan dan Empat Ekor Mati