digtara.com -Ketegangan bersenjata di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah militer Iran meluncurkan serangan rudal yang menargetkan instalasi militer milik Amerika Serikat di Kuwait.
Serangan tersebut dikonfirmasi oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang menyatakan bahwa unit tempur mereka terlibat langsung dalam operasi militer tersebut.
Target utama dari serangan balasan ini adalah pangkalan militer Amerika yang berada di Kamp Arifjan, sebuah fasilitas logistik penting bagi pasukan AS yang berlokasi di selatan Kota Kuwait.
Menurut pernyataan resmi IRGC, operasi tersebut melibatkan peluncuran proyektil jarak jauh yang diarahkan ke titik strategis di wilayah pangkalan.
Baca Juga: Iran Tunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Baru, Harga Minyak Dunia Melonjak "Pangkalan Amerika di Arifjan dihantam oleh tembakan dua
rudal," klaim IRGC seperti dikutip oleh The Times of Israel.
Sistem Pertahanan Kuwait Diaktifkan
Menanggapi serangan tersebut, otoritas keamanan Kuwait segera mengaktifkan sistem pertahanan udara untuk mengantisipasi ancaman lanjutan.
Garda Nasional
Kuwait melaporkan adanya upaya infiltrasi udara menggunakan sejumlah drone yang mencoba memasuki wilayah udara negara tersebut.
Pasukan pertahanan udara Kuwait dikabarkan berhasil menjatuhkan delapan unit drone sebelum mencapai target strategis.
Langkah tersebut diambil sebagai upaya melindungi infrastruktur vital serta mencegah potensi kerusakan terhadap wilayah sipil.
Baca Juga: Operasi Militer Lawan Iran, AS Rugi Rp91 Triliun dalam 100 Jam Operation Epic Fury Pihak keamanan
Kuwait juga menegaskan bahwa tingkat kesiapsiagaan militer saat ini berada pada level tertinggi untuk mengantisipasi kemungkinan serangan susulan.
Konflik Dipicu Operasi Militer Sebelumnya
Eskalasi konflik ini disebut sebagai respons terhadap operasi militer besar yang terjadi pada akhir Februari lalu.
Saat itu, pasukan Amerika Serikat bekerja sama dengan Israel melancarkan serangan terhadap wilayah yang diklaim sebagai target militer di
Iran.
Operasi tersebut memicu kemarahan publik dan pemerintah di Teheran yang kemudian menuntut adanya aksi balasan terhadap kepentingan militer Amerika di kawasan Teluk.
Sebagai respons, Iran dilaporkan meluncurkan serangkaian serangan rudal dan drone ke berbagai titik yang memiliki keterkaitan dengan kepentingan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Selat Hormuz Lumpuh, Harga Minyak Dunia Melambung Tembus 82 Dolar AS
Dampak Serangan Masih DipantauMeski sistem pertahanan udara diaktifkan, sejumlah laporan menyebutkan bahwa beberapa proyektil berhasil menembus sistem pertahanan dan mencapai area sekitar pangkalan.
Menurut laporan dari Xinhua News Agency, dampak kerusakan paling signifikan dilaporkan terjadi di instalasi militer di wilayah Kuwait.
Hingga saat ini, pemantauan keamanan masih dilakukan secara intensif di wilayah udara, pesisir, serta perbatasan darat
Kuwait untuk mengantisipasi potensi eskalasi lanjutan.