digtara.com -Kebakaran vegetasi yang melanda lereng dan kawasan sekitar kawah Gunung Iya, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur, telah berlangsung sejak Minggu, 8 Maret 2026.
Hingga Jumat (13/3/2026), api masih terpantau aktif, dengan kepulan asap tebal yang terlihat jelas dari pos pengamatan dan kamera pengawas.
Laporan Badan Geologi Kementerian ESDM menyebutkan kalau kebakaran bermula dari area lereng dan merambat mendekati puncak gunung.
Pemantauan melalui CCTV di Pos Pengamatan Gunung Iya menunjukkan bahwa titik api kini terkonsentrasi di sekitar kawah pusat gunung api tipe strato ini, yang memiliki ketinggian 637 meter di atas permukaan laut.
Baca Juga: Tiga Pencuri Perangkat Komputer Sekolah di Ende Dibekuk Polisi, Dua Diantaranya Masih Dibawah Umur Plt. Kepala Badan Geologi, Lana Saria menyatakan bahwa titik api diduga berada atau terperangkap di antara rekahan-rekahan pada tubuh gunung. Kondisi ini menyebabkan api sulit dipadamkan sepenuhnya dan terus bertahan di area tersebut, meskipun vegetasi permukaan telah terbakar.
"Diduga titik api berada atau terperangkap di antara rekahan-rekahan pada tubuh gunung tersebut sehingga api masih bertahan di area tersebut," ujar Lana Saria dalam keterangan resmi pada Sabtu (14/3/2026).
Rekahan-rekahan ini sebelumnya telah diketahui ada di sekeliling kawah aktif Gunung Iya, menandakan adanya zona lemah di dalam struktur gunung api.
Namun, Badan Geologi menegaskan bahwa
kebakaran ini murni
kebakaran vegetasi di permukaan dan tidak berkaitan dengan peningkatan aktivitas vulkanik.
Tidak ada indikasi erupsi atau peningkatan kegempaan vulkanik yang menyertai peristiwa ini.
Kebakaran menghasilkan asap cukup pekat karena vegetasi di sekitar kawah masih relatif hijau, sehingga mudah teramati dari kejauhan, termasuk hingga mendekati pesisir pantai di wilayah Ende.
Baca Juga: Buruh Harian Lepas di Ende Berulang Kali Setubuhi Anak Dibawah Umur
Pemantauan juga melibatkan drone untuk memetakan luas
kebakaran di sisi selatan gunung.
Pihak berwenang terus memantau perkembangan melalui Pos Pengamatan
Gunung Iya dan MAGMA Indonesia. Masyarakat di sekitar gunung serta wisatawan diimbau tetap waspada dan tidak memasuki radius 2 kilometer dari kawah aktif, sesuai rekomendasi status level aktivitas gunung yang masih berada pada level normal hingga waspada (belum dinaikkan karena
kebakaran ini).
Penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan, namun musim kemarau dan kondisi vegetasi kering diduga menjadi faktor pemicu utama.
Petugas mengimbau masyarakat tidak panik dan mengikuti informasi resmi dari Badan Geologi serta BPBD setempat untuk menghindari informasi yang menyesatkan terkait potensi erupsi.
Baca Juga: Tiga Pencuri Perangkat Komputer Sekolah di Ende Dibekuk Polisi, Dua Diantaranya Masih Dibawah Umur