digtara.com -Empat orang warga di Kabupaten Sabu Raijua, NTT dilaporkan meninggal dunia karena terinfeksi virus leptospirosis. Mereka terdiri dari dua orang perempuan dan dua orang pria.
Mereka merupakan keluarga Bunga Alu dan merupakan warga perbatasan Kelurahan Mebba dan Desa Raeloro, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten
Sabu Raijua.
Leptospirosis sendiri merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri leptospira dan ditularkan melalui urine hewan terinfeksi terutama tikus yang mencemari air atau tanah terutama saat banjir.
Penyakit ini menyerang manusia melalui kulit yang lecet atau selaput lendir dengan gejala demam, nyeri otot (betis) dan mata merah.
Baca Juga: DPO Polres Sabu Raijua Yang Ditangkap di Sumba Timur Berulang Kali Cabuli Keponakan Hingga Hamil Empat korban di Kabupaten
Sabu Raijua dari keluarga Bunga Alu yakni EBA alias Ester (84), JBA alias Jekson (18) dan JTW alias Jublina (55). ketiganya merupakan warga RT 009 RW/006, Kelurahan Mebba, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten
Sabu Raijua.
Satu korban lagi yakni, LBA alias Lukas (56) merupakan warga RT 003/RW 002, Desa Raeloro, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua.
Korban Ester mulai sakit pada awal Maret 2026. Ia selama ini juga sering sakit karena faktor usia.
Awalnya, pada Minggu, 8 Maret 2026, Ester masih bisa berjalan. Namun pada malam hari ia mengalami demam tinggi.
Keesokan harinya atau pada Senin, 9 Maret 2026 pagi sekitar pukul 06.00 Wita, Ester meninggal dunia.
Korban Jekson yang juga pelajar SMA diketahui mulai sakit pada 6 Maret 2026 dengan keluhan demam.
Baca Juga: Sempat Kabur ke Hutan, DPO Polres Sabu Raijua Diamankan Anggota Polres Sumba Timur Ia diantar keluarganya ke Puskesmas Seba pada Jumat (6/3/2026) dan mendapatkan obat. Selanjutnya ia menjalani penanganan lanjutan untuk rawat jalan.
Saat itu, korban Jekson diberikan obat kemudian pulang ke rumah dan hanya minum obat. Siangnya ia mulai sesak nafas dan pada Senin, 9 Maret 2026 petang sekitar pukul 18.00 Wita, Jekson meninggal dunia.
Korban Jublina mulai sakit pada 12 Maret 2026. Ia mengalami gejala sakit demam dan panas tinggi.
Jublina pun dibawa ke Puskesmas pada hari itu juga. Karena demam dan panas tinggi belum turun maka Jublina dirujuk ke RSUD Menia, Kabupaten
Sabu Raijua.
Selain demam dan panas tinggi, Jublina pun mengeluhkan sakit lambung dan HB rendah. Tiga hari pasca dirawat di rumah sakit atau pada 15 Maret 2026, Jublina pun meninggal dunia.
Lukas mulai sakit pada Jumat (20/3/2026) dengan gejala demam dan panas.
Baca Juga: Masalah Anak, Pria di Sabu Raijua Dianiaya Besan Hingga Sekarat
Pada Jumat petang, Lukas dibawa ke dokter praktek namun tidak ada perubahan sehingga pada Sabtu, 21 Maret 2026, Lukas dijemput petugas Puskesmas Seba, Kabupaten
Sabu Raijua untuk dibawa ke Puskesmas Seba.
Pada Sabtu (21/3/2026) petang, Lukas langsung dirujuk ke RSUD Menia, Kabupaten Sabu Raijua.
Saat itu, Lukas juga mengalami HB rendah, sakit lambung, gejala sakit ginjal dan paru-paru.
Beberapa jam pasca ditangani petugas medis, Lukas pun meninggal dunia pada Sabtu malam sekitar pukul 23.00 Wita di RSUD Menia, Kabupaten
Sabu Raijua.
Ada pula korban lain RBA alias Ruben (58) yang juga warga RT 009/RW 005, Kelurahan Mebba, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten
Sabu Raijua.
Ia mulai sakit pada Senin, 23 Maret 2026 dengan keluhan badan panas dan demam. Ruben sudah diambil sampel darahnya oleh dokter Puskesmas Seba untuk diperiksa.
Para korban diketahui tinggal dengan rumah berdekatan di perbatasan desa antara Kelurahan Mebba dan Desa Raeloro, Kecamatan Sabu Barat.
Baca Juga: DPO Polres Sabu Raijua Yang Ditangkap di Sumba Timur Berulang Kali Cabuli Keponakan Hingga Hamil
Plt Direktur RSUD Menia, dr Lino menerangkan bahwa empat orang meninggal dunia akibat dugaan infeksi Leptospirosis.
Ia menyebutkan kalau Leptospirosis merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan bakteri Leptospira dan menular dari hewan ke manusia (zoonosis).
Penularan umumnya terjadi melalui urine tikus yang masuk ke dalam tubuh melalui luka terbuka atau selaput lendir, terutama saat musim hujan atau banjir.
Gejala yang ditimbulkan antara lain demam, nyeri otot (terutama betis), dan mata merah.
Sejak akhir pekan lalu sudah dilakukan investigasi oleh tim gabungan dari Kelurahan Mebba bersama Bhabinkamtibmas, tim kesehatan gabungan Dinas Kesehatan dan Puskesmas Seba di rumah Ruben Bunga Alu.
Dari hasil pantauan dari ketua RW dan RT setempat, serta masyarakat yang datang melayat juga mengeluhkan bahwa lingkungan tempat tinggal keluarga Bunga Alu sangat berpengaruh sehingga bisa mengakibatkan terganggunya kesehatan di lingkungan setempat.
Baca Juga: Sempat Kabur ke Hutan, DPO Polres Sabu Raijua Diamankan Anggota Polres Sumba Timur Hasil Investigasi kasus kematian beberapa warga dalam satu rumah dalam kurun waktu dua pekan bahwa tanda dan gejala semua korban yang sempat dirawat mengarah pada diagnosa penyakit Leptospirosis yang disebabkan oleh bakteri Leptospira yg berasal air kencing tikus.
Namun dari pemeriksaan sampel darah yang dikirim ke Kupang malah menunjukkan hasil negatif.
Untuk sementara dilakukan himbauan untuk pembersihan lokasi sekitar rumah dan kemungkinan dilakukan fogging karena dari salah satu pasien yang sempat dirawat dan akhirnya meninggal hasil laboratoriumnya menunjukkan ada demam dengue (virus dengue) positif tapi belum mengarah ke demam berdarah.
Pemda Kabupaten
Sabu Raijua langsung menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) pada Senin (23/3/2026) untuk penanganan kasus tersebut.
Rakor dihadiri oleh Sekda Kabupaten Sabu Raijua, Septimius M. Bule Logo, Danramil 1608-04 Sabu Raijua, Lettu Inf. Daniel Mahoklory, Plt. Direktur RSUD Menia, Kasat Pol PP Kabupaten Sabu Raijua, Kalakhar BPBD Kabupaten Sabu Raijua, perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Sabu raijua, Puskesmas Seba, Camat Sabu Barat dan Lurah Mebba.
Rapat tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan dan langkah konkret yang akan segera dilaksanakan bahwa pemerintah daerah melalui dinas teknis segera meninjau langsung lokasi, kondisi sanitasi air, serta, pemukiman warga yang berada di dekat area persawahan.
Baca Juga: Masalah Anak, Pria di Sabu Raijua Dianiaya Besan Hingga Sekarat Juga dilakukan kegiatan kerja bakti (korve), bersama unsur TNI, Polri, Pemda, Dinas Kesehatan, Camat, Lurah, dan masyarakat untuk membersihkan dan merapikan lingkungan.
BPBD Kabupaten Sabu Raijua segera membuat lubang biopori dan resapan air untuk meminimalisir genangan air yang berpotensi menjadi sarang bakteri.
Untuk langkah pencegahan dan edukasi, Dinas Kesehatan gencar memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya Leptospirosis serta pentingnya segera memeriksakan diri ke Puskesmas jika mengalami gejala serupa.
Selain itu dilakukan pemeriksaan laboratorium yakni sampel darah pasien segera dikirim untuk uji laboratorium.
Selanjutnya akan dilakukan penangkapan tikus untuk pengambilan sampel guna memastikan keberadaan bakteri di lingkungan.
Camat Sabu Barat dan Lurah Mebba diminta segera melakukan komunikasi dan pendekatan kepada keluarga pasien.
Baca Juga: DPO Polres Sabu Raijua Yang Ditangkap di Sumba Timur Berulang Kali Cabuli Keponakan Hingga Hamil Sekretaris Daerah Kabupaten
Sabu Raijua, Septimius M. Bule Logo bersama Camat Sabu Barat dan Lurah Mebba langsung turun ke lokasi untuk memberikan arahan dan menegaskan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan serta kewaspadaan terhadap bahaya virus Leptospirosis.
Sampai dengan saat ini masih terdapat satu orang yang sementara sakit dengan gejala yang sama, Ruben Bunga Alu. Ia sementara diambil sampel darah untuk diperiksa di laboratorium.