digtara.com -Hasil pemeriksaan laboratorium di Labkesda Provinsi NTT terkait pemeriksaan darah pada beberapa warga di Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua menunjukkan positif virus leptospirosis.
Pemerintah Kabupaten
Sabu Raijua kemudian menggelar upaya penanggulangan penyebaran virus ini.
Kamis, 26 Maret 2026 digelar rapat penanggulangan penyebaran Infeksi virus Leptospirosis yang terjadi di perbatasan antara Kelurahan Mebba dan Desa Raeloro, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua.
Kegiatan penanggulangan dipimpin Wakil Bupati Sabu Raijua, Thobias Uly dan dihadiri Sekda Kabupaten Sabu Raijua, Septenius Bule Logo, Kapolsek Sabu Barat, Danramil 1608-04 Sabu Raijua.
Baca Juga: Modus Pencuri Sapi Di Kupang, Tembak Dengan Senpi Dan Kuliti Sapi Di Tempat Hadir pula Kadis Kesehatan Kabupaten
Sabu Raijua, Thobias J. Mesakh, Sekdis Kesehatan, Herson Kedang, Kalakhar BPBD, Piter Rohi, Camat Sabu Barat, David Djara Liwe, Plt. Direktur Rumah Sakit Umum Menia, dr. Lino, dokter Puskesmas Seba, dr. Mudy Amatiran, Lurah Mebba, Sjahly Tome, Tagana dan staf Dinkes maupun Puskesmas Seba
Dalam rapat pengendalian penyebaran virus Leptospirosis di Puskesmas Seba, Kadis Kesehatan Kabupaten Sabu Raijua menyebutkan kalau pertemuan tersebut sebagai tindakan pengendalian penyebaran virus Leptospirosis di lokasi meninggalnya empat orang keluarga Bunga Alu
Kepada warga sekitar lokasi juga sudah dibagikan obat sebagai antisipasi penularan.
Penyemprotan desinfektan di lokasi-lokasi yang diduga berkembang biaknya virus Leptospirosis juga diintensifkan serta upaya pengobatan untuk warga yang terpapar sakit,
Wakil bupati mengingatkan agar dilakukan pendekatan humanis kepada korban agar mau dirawat
Sementara Sekda Kabupaten Sabu Raijua memastikan kalau hasil tiga kali uji laboratorium di Labkesda Provinsi NTT semua korban positif terjangkit virus Leptospirosis.
Baca Juga: Remaja Pria Diamankan Saat Curi Helm Di Parkiran Lippo Plaza Kupang Untuk itu perlu upaya menghentikan penyebaran virus disertai sosialisasi kepada keluarga untuk sama-sama mencegah virus menyebar.
Tim kemudian ke rumah keluarga Bunga Alu di RT 009/RW 005, Kelurahan Mebba dipimpin Wakil bupati Sabu Raijua.
Pihak kepolisian menyampaikan kalau kunjungan tersebut sebagai bagian dari upaya menanggulangi penyebaran virus Leptospirosis sehingga tidak menular.
Polisi mengingatkan karena virus menular maka tidak diperkenankan untuk sementara berkumpul di rumah korban sehingga virus tidak menyebar ke luar.
Kegiatan syukuran yang mendatangkan banyak orang juga diharapkan jangan dulu diadakan supaya virus jangan menyebar.
Kadis Kesehatan menyebutkan kalau kejadian ini termasuk kejadian luar biasa sehingga harus bekerja sama untuk memutus rantai penyebarannya.
Baca Juga: Sejumlah Gudang Dan Rumah Di Sabu Barat Rusak Diterjang Hujan Dan Angin Puting Beliung
Dinkes pun memberikan obat untuk semua keluarga Bunga Alu yang tinggal di lokasi tersebut.
Tim juga meninjau tempat yang tergenang air dan disiram cairan disinfektan untuk mencegah berkembang biaknya virus Leptospirosis.
Karena virus menular melalui air kencing tikus, maka warga agar memperhatikan sarana-sarana memasak dan keluarga yang merasa sakit agar segera kontrol di Puskesmas.
Dalam 14 hari kedepan, petugas akan selalu datang ke rumah keluarga Bunga Alu untuk pemantauan.
Perwakilan keluarga, Ruben Logo Buke mengakui kalau pada kejadian hari pertama, korban tidak sempat dibawa ke rumah sakit karena mereka sedang kedukaan.
Keluarga sempat bertanya-tanya penyebab meningggalnya empat anggota keluarga secara beruntun.
Baca Juga: Polsek Sabu Barat Inisiasi Kerja Bakti Pembersihan Rumah Warga Korban Virus Leptospirosis Namun dengan keluarnya hasil laboratorium sudah positif sehingga mereka akan bersama pemerintah membantu upaya pencegahan.
Ruben pun sempat menegur anggota keluarga yang sakit dan menolak menjalani rawat inap di Puskesmas, namun sudah dibawa kembali ke Puskesmas untuk rawat inap.
Wakil bupati dan tim memberikan bantuan sepatu bot untuk keluarga Bunga Alu dan membersihkan lingkungan rumah keluarga Bunga Alu disertai penyemprotan cairan disinfektan di rumah, halaman dan lingkungan sekitar keluarga Bunga Alu.
Pada bak penampung air dan sumur juga dituangkan kaporit serta pemasangan gorong-gorong di bibir sumur.
Tim juga membawa Ruben Bunga Alu dan anaknya Magelhaens Bunga Alu yang sakit ke Puskesmas Seba untuk menjalani perawatan dan menjalani rawat Inap.
Leptospirosis merupakan penyakit infeksi bakteri Leptospira yang ditularkan melalui urine hewan terinfeksi, khususnya tikus, yang mencemari air maupun tanah.
Baca Juga: Empat Warga Di Sabu Raijua Meninggal Dunia Diduga Infeksi Virus Leptospirosis, Satu Warga Dirawat Intensif Penularan kepada manusia terjadi melalui kontak langsung dengan air/tanah yang terkontaminasi, terutama saat kondisi banjir, melalui kulit yang terluka maupun selaput lendir (mata, hidung, mulut).
Gejala awal meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, dan lemas, yang apabila tidak ditangani dapat berkembang menjadi kondisi berat seperti penyakit Weil yang dapat menyebabkan gangguan ginjal dan hati.
Diketahui terdapat empat kasus kasus meninggal dunia di Kabupaten Sabu Raijua terkait virus ini.
Korban Ester Bunga Alu dan cucunya Jekson Bunga Alu meninggal dunia di rumah dan tidak sempat mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan.
Korban lain. Jublina Tugi Wogi (ibu dari korban Jekson Bunga Alu) meninggal dunia di RSUD Menia.
Berikutnya Lukas Bunga Alu (paman dari Jekson Bunga Alu) meninggal dunia di RSUD Menia.
Baca Juga: Video Asusila Anggota Polres Rote Ndao Dengan Seorang Wanita Viral, Anggota Langsung Diproses Hukum