digtara.com -Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai virus penyakit leptospirosis yang dapat menular melalui air yang terkontaminasi kencing tikus.
Penyakit ini berisiko tinggi terjadi terutama saat musim hujan dan banjir.
Kepala Dinas Kesehatan NTT, Ruth Diana Laiskodat, menegaskan bahwa leptospirosis merupakan penyakit infeksi bakteri yang masuk ke tubuh manusia melalui luka terbuka atau selaput lendir saat kontak dengan air tercemar.
"Bakteri leptospira dapat masuk melalui kulit yang lecet atau melalui mata, hidung, dan mulut, terutama saat seseorang kontak dengan genangan air, lumpur, atau lingkungan yang terkontaminasi urine tikus," jelas Ruth melalui flyer yang diterima wartawan pada akhir pekan lalu.
Baca Juga: Oknum Anggota Dewan Diamankan Polisi Bersama Pasangannya Disebutkan kalau aktivitas di lingkungan seperti selokan, sawah, sungai, maupun daerah yang tergenang air menjadi faktor risiko utama penularan penyakit tersebut.
Menurutnya, masyarakat perlu mengenali gejala awal leptospirosis agar dapat segera mendapatkan penanganan medis.
Gejala yang sering muncul antara lain demam tinggi mendadak disertai menggigil, nyeri otot terutama di bagian betis dan punggung, serta sakit kepala hebat.
"penderita juga bisa mengalami mata kemerahan, mual, muntah, diare, bahkan penurunan nafsu makan. Pada kondisi yang lebih berat, dapat terjadi kulit dan mata menguning," tambahnya.
Kadinkes menegaskan bahwa leptospirosis bukan penyakit ringan dan dapat berakibat fatal jika tidak segera ditangani.
Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala tersebut.
Baca Juga: Patroli Malam Minggu, Anggota Ditsamapta Polda NTT Amankan Sopir Mobil Rental Yang Lecehkan Penumpang "Jika muncul tanda-tanda tersebut, segera periksa ke puskesmas atau rumah sakit. Penanganan dini sangat penting untuk mencegah komplikasi hingga kematian," ujarnya.
Untuk mencegah penularan, Dinas Kesehatan NTT mengajak masyarakat menerapkan pola hidup bersih dan sehat.
Diantaranya dengan rutin mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir setelah beraktivitas, serta menggunakan alat pelindung diri seperti sarung tangan dan sepatu boots saat membersihkan lingkungan.
Masyarakat juga diminta menjaga kebersihan lingkungan, terutama saluran air dan tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang tikus.
"Pencegahan paling efektif adalah menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak langsung dengan air yang berpotensi tercemar. Ini perlu menjadi perhatian bersama," tandas Ruth Laiskodat.
Virus ini sudah makan korban. Empat warga di Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua meninggal dunia akibat virus ini.
Sementara satu orang kerabat mereka menjalani perawatan intensif di Puskesmas karena juga terjangkit virus ini.
Baca Juga: Oknum Anggota Dewan Diamankan Polisi Bersama Pasangannya Hasil uji laboratorium di Labkesda Provinsi NTT beberapa waktu lalu memastikan kalau para korban positif terjangkit virus ini.