digtara.com -Sebanyak 83 peserta seleksi Calon Taruna (Catar) Akademi Kepolisian (Akpol) Panitia Daerah (Panda) Polda NTT mulai mengikuti pemeriksaan kesehatan tahap I, Kamis (9/4/2026).
Pemeriksaan kesehatan I ini dipusatkan di gedung Cempaka dan Hemodialisa rumah sakit Bhayangkara
Titus Uly Kupang.
Pemeriksaan mencakup pemeriksaan fisik, tinggi dan berat badan, THT, gigi, visus mata, tekanan darah dan denyut nadi serta tes buta warna.
Dari 83 peserta, dua orang peserta pria tidak hadir karena mengundurkan diri. Tersisa hanya 81 peserta yang mengikuti pemeriksaan kesehatan I terdiri dari 70 orang peserta pria dan 11 orang peserta wanita.
Baca Juga: Kapolda NTT Resmikan Mako Satpolairud Polres Ende Dari hasil pemeriksaan, 28 orang dinyatakan tidak memenuhi syarat kesehatan terdiri dari 23 orang pria (termasuk dua orang peserta tidak hadir) dan lima orang peserta wanita.
Tersisa 55 orang peserta yang memenuhi syarat pemeriksaan kesehatan terdiri dari 49 orang peserta pria dan enam orang peserta wanita.
55 orang peserta ini akan mengikuti tahapan selanjutnya yakni ujian CAT psikologi pada akhir bulan April mendatang.
Dipantau Wakapolda NTT
Wakapolda NTT, Brigjen Pol Baskoro Tri Prabowo memantau langsung pelaksanaan pemeriksaan kesehatan tahap I seleksi Catar Akpol.
Baca Juga: Dampak Gempa di Flores Timur, Enam Warga Terluka Dan Ratusan Rumah Warga Rusak Wakapolda NTT didampingi Kabid Dokkes
Polda NTT, AKBP dr. Herry Purwanto dan Kabid Humas
Polda NTT, Kombes Pol Henry Novika Chandra serta Kasubbid Paminal Bid Propam
Polda NTT.
Brigjen Pol. Baskoro Tri Prabowo juga menyempatkan diri berdialog dengan para peserta. Ia memberikan motivasi agar seluruh calon taruna tetap percaya diri, menjaga kesehatan, dan mengikuti setiap tahapan seleksi dengan kemampuan sendiri.
Wakapolda NTT menaruh perhatian serius terhadap pelaksanaan seleksi penerimaan anggota Polri agar berlangsung bersih dan bebas dari praktik kecurangan.
Brigjen Pol. Baskoro Tri Prabowo mengingatkan seluruh panitia agar bekerja secara jujur, profesional dan berpedoman pada prinsip BeTAH, yakni Bersih, Transparan, Akuntabel dan Humanis.
"Tidak boleh ada permainan ataupun penyimpangan dalam proses seleksi," ujar Wakapolda NTT.
Wakapolda juga menegaskan kepada seluruh panitia untuk menjalankan tugas sesuai aturan yang berlaku dan tidak memberi ruang sedikitpun terhadap praktik titipan maupun intervensi.
Baca Juga: Lima Tersangka Kasus Narkoba Dilimpahkan Ditresnarkoba Polda NTT ke Kejaksaan Negeri Ngada
"Panitia jangan main-main. Kerja harus sesuai aturan dan jangan sampai ada kecurangan dalam proses seleksi. Semua peserta harus mendapatkan kesempatan yang sama berdasarkan kemampuan dan hasil yang diperoleh," tegas Brigjen Pol. Baskoro Tri Prabowo.
Kabid Humas Polda NTT menyebutkan kalau pengawasan langsung yang dilakukan pimpinan Polda NTT merupakan bentuk komitmen institusi untuk menghasilkan calon Taruna Akpol yang benar-benar berkualitas, sehat jasmani, serta memiliki integritas.
Seluruh rangkaian pemeriksaan kesehatan tahap I diawasi pengawas eksternal dan pengawas internal dari Bid Propam Polda NTT dan Itwasda Polda NTT.
Hasil pemeriksaan kesehatan langsung diumumkan karena proses seleksi menerapkan sistem one day service.
Bagi peserta yang tidak memenuhi syarat kesehatan diberikan catatan yang menerangkan alasan medis.
Mereka pun langsung berkonsultasi dengan dokter tentang alasan tidak memenuhi syarat kesehatan serta pendampingan psikologi dari anggota Bagian Psikologi Biro SDM
Polda NTT.
Para peserta pun diberikan akses secara bebas untuk menyampaikan keluhan dan catatan terkait pelaksanaan seleksi melalui barcode resmi baik oleh sekretariat dari Biro SDM Polda NTT maupun oleh Bid Propam Polda NTT.
Sejumlah peserta dan orang tua menyatakan puas dengan sistem pemeriksaan kesehatan karena dilakukan secara transparan dan hasilnya langsung diumumkan.
Baca Juga: Kapolda NTT Resmikan Mako Satpolairud Polres Ende "Walaupun menunggu (hasil) sampai malam tapi kami puas karena bisa langsung mengetahui hasil seleksi dan panitia juga menyampaikan alasan kepada peserta yang tidak lulus pemeriksaan kesehatan sehingga peserta dan orang tua bisa mengetahui secara pasti," ujar Donatus (45), salah satu orang tua peserta seleksi.