digtara.com -Pemerintah Provinsi NTT kini membatasi penggunaan LPG tertentu dan mengarahkan dapur MBG hingga pelaku usaha memakai tabung ukuran 50 kilogram.
Hal ini merupakan dampak dari kelangkaan
LPG di NTT.
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena dan wakil gubernur NTT, Johni Asadoma menempuh kebijakan ini setelah ditemukan kekosongan stok LPG di sejumlah titik di Kota Kupang, seperti O Mart dan MTM Mart, saat melakukan pemantauan akhir pekan lalu.
Gubernur Melki Laka Lena menyebut kelangkaan LPG ini tidak lepas dari gangguan distribusi dari luar daerah, yang turut dipengaruhi kondisi global.
Baca Juga: Tersangka Kasus Pencabulan Terhadap Anak Diserahkan Polsek Kota Raja ke Kejaksaan NTT sendiri masih sangat bergantung pada pasokan energi dari luar wilayah, termasuk pengiriman
LPG dari Surabaya.
Ketika distribusi tersendat, stok di tingkat lokal langsung terdampak.
"Memang ada keterlambatan distribusi, sehingga terjadi kekosongan di beberapa titik," ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah mengeluarkan imbauan tegas kepada sektor komersial, termasuk
dapur MBG, restoran, dan hotel, untuk tidak lagi menggunakan
LPG ukuran 12 kilogram dan 5 kilogram.
Mereka diarahkan menggunakan LPG 50 kilogram agar pasokan tabung kecil tetap tersedia bagi rumah tangga.
Kebijakan ini dinilai penting mengingat program MBG membutuhkan pasokan energi stabil untuk operasional dapur yang melayani masyarakat luas.
Baca Juga: Pelaku Pencurian Berantai di Manggarai Barat Dibekuk Polisi Untuk mengatasi kelangkaan, Pemprov NTT bersama Pertamina menyiapkan sejumlah langkah cepat.
Salah satunya dengan menambah agen LPG di Kota Kupang dari satu menjadi dua, yakni PT Timor Gas di Alak dan PT Ferimas di Bolok.
Selain itu, distribusi LPG dari Surabaya juga sedang dipercepat guna menutup kekosongan stok di lapangan.
Pemerintah memastikan kelangkaan ini bersifat sementara. Masyarakat diminta tidak melakukan pembelian berlebihan yang justru bisa memperparah kondisi.
Wakil Gubernur Johanis Asadoma menegaskan, ketergantungan tinggi terhadap pasokan dari luar daerah menjadi tantangan utama yang harus segera diatasi.
"Saat ini sekitar 80 persen kebutuhan masih dari luar NTT. Ini yang harus kita benahi ke depan," ujarnya.
Meski sebagian besar bahan pokok masih terpantau stabil, kelangkaan LPG menjadi peringatan serius bagi pemerintah daerah untuk memperkuat sistem distribusi energi, terutama di tengah tekanan rantai pasok global.
Baca Juga: Tersangka Kasus Pencabulan Terhadap Anak Diserahkan Polsek Kota Raja ke Kejaksaan