digtara.com -Praktek percaloan pembelian tiket di kantor Pelni Kupang maupun Pelabuhan Tenau Kupang mulai dikikis Teguh Hari Setiadi.
Begitu dipercayakan memimpin kantor
Pelni cabang
Kupang pada Februari 2026 lalu, Teguh Hari Setiadi langsung bergerak cepat.
Ia memilih turun langsung ke lapangan, menyusuri area pelabuhan, berbincang dengan penumpang, dan memetakan persoalan klasik yang selama ini menghantui layanan transportasi laut terkait calo tiket.
Langkah awalnya sederhana namun tegas inspeksi langsung ke Pelabuhan Tenau sejam setelah tiba di Kota Kupang.
Baca Juga: Pelni Kupang Perketat Pengawasan Untuk Perangi Calo Tiket Dari sana, Teguh melihat celah yang selama ini dimanfaatkan oknum tidak bertanggung jawab.
Ia tak menunggu lama. Koordinasi lintas sektor segera dibangun, terutama dengan Polda NTT dan aparat terkait.
Hasilnya mulai terlihat. Dalam waktu singkat, lima calo tiket berhasil diringkus.
Dua diantaranya bahkan baru saja diamankan untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
Bagi Teguh, capaian ini bukan sekadar angka penindakan, melainkan bentuk keberpihakan pada masyarakat kecil.
"Ini bukan hanya soal penindakan. Ini karena cinta kepada masyarakat yang datang dengan kondisi susah. Jangan sampai mereka sudah susah, lalu kita persulit lagi. Bagaimana kalau hal itu terjadi kepada keluarga kita," ujarnya pada Senin (20/4/2026).
Baca Juga: Pria di Kupang Ditemukan Tewas Mengapung di Pantai Oesapa Teguh yang ditemui di kantor sementara
Pelni Cabang
Kupang juga membuka tabir modus operandi para calo yang kian licik.
Mereka memanfaatkan situasi renovasi kantor Pelni lama di Kelurahan Fatufeto, Kota Kupang.
Para penumpang dicegat, ditawari bantuan, bahkan diyakinkan bahwa mereka adalah "petugas resmi".
Korban yang tak curiga menyerahkan uang dan KTP sesuai harga tiket tujuan, misalnya
Kupang–Kalimantan.
Namun sesampainya di kantor Pelni yang baru di Kelurahan Namosain, skenario berubah.
Penumpang diarahkan membeli tiket tujuan yang lebih murah, seperti Kupang–Lewoleba, menggunakan ATM milik pelaku.
Baca Juga: Selamatkan Adik, Siswa SMP di Kupang Malah Terseret Arus dan Meninggal Dunia
Selisih harga itulah yang menjadi keuntungan calo bisa mencapai ratusan ribu rupiah dalam satu transaksi.
"Ini modus baru yang kami temukan. Mereka bermain di celah ketidaktahuan penumpang," ungkap Teguh.
Berbekal pengalaman bertugas di pelabuhan di wilayah Timur Indonesia, Teguh juga memperkuat sistem.
Salah satunya dengan memantau penggunaan ATM yang kerap dipakai para calo.
Jika terindikasi, kartu tersebut langsung masuk daftar hitam
Pelni dan tidak bisa lagi digunakan untuk transaksi tiket.
Di sisi lain, pengawasan di Pelabuhan Tenau diperketat.
Edukasi kepada calon penumpang juga digencarkan, baik melalui media sosial maupun secara langsung saat proses check-in.
Bagi Teguh, pencegahan adalah kunci. Ia ingin membangun kesadaran bahwa membeli tiket melalui jalur resmi adalah satu-satunya cara aman.
Baca Juga: Pelni Kupang Perketat Pengawasan Untuk Perangi Calo Tiket Teguh tak hanya menyasar pihak luar. Ia juga menegaskan komitmen bersih di internal.
Seluruh pegawai telah menandatangani pakta integritas. Jika ada yang terbukti bermain sebagai calo, sanksinya jelas pemecatan tidak hormat.
"Tidak ada toleransi jika petugas ditemukan bekerjasama dengan calo. Pasti di pecat dengan tidak hormat. Ini komitmen kami," tandasnya.