digtara.com -Sebanyak 43 orang dilaporkan mengalami gejala keracunan makanan setelah mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan di wilayah Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kasus ini pertama kali terungkap pada Kamis (30/4) pukul 10.09 Wita ketika empat siswa dari
SMA Negeri 1 Amanuban Selatan datang ke IGD
Puskesmas Panite dengan keluhan diare, sakit perut, dan sakit kepala.
Mereka diantar oleh guru setelah mengalami gejala usai mengonsumsi makanan MBG sehari sebelumnya, Rabu (29/4).
Kepala Dinas Kesehatan TTS dr. Ria Tahun langsung menugaskan Tim Respon Cepat (TRC) untuk melakukan investigasi epidemiologi.
Baca Juga: Gerak Cepat Polres TTS Evakuasi Siswa Korban Keracunan MBG Tim tiba di
Puskesmas Panite dan segera melakukan penanganan serta penelusuran ke dapur penyedia MBG, yaitu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Bena.
43 Kasus, Mayoritas Siswa SMA
Hingga pukul 16.00 WITA, jumlah pasien bertambah menjadi 43 orang, terdiri dari 34 siswa SMA, tiga orang siswa SD GMIT Panite dan enam orang guru.
Sebagian besar kasus berasal dari SMA Negeri 1 Amanuban Selatan (38 orang), sementara sisanya dari SD GMIT Panite dan SD Inpres Tuapanan.
Gejala yang paling banyak dilaporkan adalah diare (86%), sakit perut (65%), mual (35%), dan pusing (28%). Beberapa pasien juga mengalami muntah, lemas, dan nyeri ulu hati.
Baca Juga: Siswa SMA di Cibal-Manggarai Heboh dengan Penemuan Benda Diduga Janin Manusia Seluruh pasien ditangani di Posko
Puskesmas Panite. Hingga pukul 18.00 WITA, sebanyak 27 pasien telah dipulangkan, sementara 16 lainnya masih dalam perawatan, sebagian besar dengan infus.
Diduga Akibat Kontaminasi Bakteri
Berdasarkan hasil investigasi sementara, masa inkubasi gejala berkisar antara 2 hingga 27 jam setelah konsumsi makanan.
Hal ini mengarah pada dugaan keracunan akibat kontaminasi mikrobiologis, khususnya toksin bakteri.
Tim juga menemukan bahwa proses pengolahan makanan di dapur SPPG telah dimulai sejak pukul 01.00 dini hari, sementara distribusi berlangsung hingga siang hari ke 13 lokasi, mencakup 11 sekolah dan 2 posyandu, dengan total 2.273 paket makanan.
Menu MBG yang dibagikan meliputi nasi beras merah, ayam bumbu kuning, tempe goreng, acar sayur, serta salad buah.
Langkah Penanganan dan Investigasi Lanjutan
Dinas Kesehatan bersama tim gabungan telah melakukan sejumlah langkah penanganan, antara lain, perawatan medis bagi seluruh korban, investigasi lapangan di lokasi dapur dan distribusi, penyuluhan kepada masyarakat dan sekolah, pengambilan sampel makanan untuk diuji di laboratorium BPOM dan Labkesmas Kupang.
Baca Juga: Gerak Cepat Polres TTS Evakuasi Siswa Korban Keracunan MBG Selain itu, posko darurat dengan 15 tempat tidur juga telah didirikan untuk menangani lonjakan pasien.
Rekomendasi Perbaikan
Sebagai tindak lanjut, pihak SPPG diminta untuk memperbaiki manajemen waktu pengolahan dan distribusi makanan, menerapkan standar operasional prosedur (SOP) higienitas secara ketat, melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem penyimpanan dan distribusi
Sementara itu, pihak sekolah dan penerima makanan diminta lebih waspada dengan memeriksa kondisi makanan sebelum dikonsumsi.
Pemantauan kasus akan terus dilakukan selama minimal tiga kali masa inkubasi terpanjang (sekitar 3–4 hari) guna memastikan tidak ada tambahan kasus baru.
Status Sementara
Baca Juga: Siswa SMA di Cibal-Manggarai Heboh dengan Penemuan Benda Diduga Janin Manusia
Dinas Kesehatan menyimpulkan bahwa telah terjadi kejadian luar biasa (KLB) keracunan makanan di Amanuban Selatan yang diduga kuat berkaitan dengan konsumsi MBG.
Namun, penyebab pasti masih menunggu hasil uji laboratorium.
Pihak berwenang mengimbau masyarakat tetap tenang namun waspada, serta segera melaporkan jika mengalami gejala serupa setelah mengonsumsi makanan dari sumber yang sama.