digtara.com -Sebanyak lima orang warga mengalami luka saat bentrokan antar desa di Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (9/5/2026) malam.
Konflik ini melibatkan warga Desa Narasaosina dan Desa Waiburak, Kabupaten Flores Timur.
Kapolres Flores Timur, AKBP Adhitya Octorio Putra yang dikonfirmasi pada Minggu (10/5/2026) membenarkan hal tersebut.
Kapolres yang sedang memimpin pengamanan di lokasi kejadian menyebutkan kalau kondisi saat ini sudah kondusif.
"Sejauh ini sudah reda dan aman (hingga Minggu malam)," ujar Kapolres pada Minggu malam.
Terpisah, Kasi Humas Polres Flores Timur, AKP Eliezer A. Kalelado menyebutkan ada lima korban luka dalam peristiwa ini.
Baca Juga: Siswa SDN Nefosaka Kupang Belajar Mengenal Satwa Dan Tanaman di KHDTK Oelsonbai
"Untuk korban luka sebanyak lima orang yakni FA, JBAL, T, E dan G," ujar Kasi Humas pada Minggu malam.
Ada pula bangunan dan rumah yang mengalami kerusakan imbas dari bentrokan antar warga ini.
Terdata oleh pihak kepolisian ada 12 bangunan rusak berat akibat konflik antar warga tersebut.
Belasan bangunan rusak ini terdiri dari 10 unit bangunan rumah, satu bangunan apotik dan satu unit kios.
Korban terluka sudah dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Larantuka untuk mendapatkan penanganan medis.
Bentrok ini diduga dipicu sengketa kepemilikan tanah adat yang hingga kini belum menemukan titik temu.
Pada akhir Februari 2026 lalu, Pemkab Flores Timur sempat memediasi kedua belah pihak di kantor Bupati Flores Timur.
Konflik yang sama juga pernah terjadi pada awal Maret 2026. lima warga mengalami luka tembak dan enam rumah dilaporkan rusak serta terbakar.
Aparat Polres Flores Timur terus melakukan langkah-langkah pengamanan, pendekatan persuasif, serta koordinasi dengan seluruh unsur terkait guna menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap kondusif.
Baca Juga: Aksi Unjuk Rasa Gabungan Cipayung Plus di Kota Kupang Ricuh, Dua Anggota Polisi Dan Warga Terkena Lemparan Batu TNI dan Polri hingga saat ini masih melakukan pengamanan, serta komunikasi intensif dengan tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, dan seluruh elemen masyarakat di wilayah Flores Timur
Kapolres
Flores Timur, AKBP Adhitya Octorio Putra mengimbau seluruh masyarakat agar tetap tenang, tidak mudah terpengaruh informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya, serta menahan diri dari tindakan-tindakan yang dapat memperkeruh situasi.
"Kami mengajak seluruh masyarakat, khususnya warga Dusun Bele, Desa Waiburak maupun Desa Narasaosina, untuk tetap menjaga persaudaraan, mengedepankan penyelesaian secara adat, musyawarah, dan hukum yang berlaku. Jangan mudah terpancing provokasi, baik secara langsung maupun melalui media sosial, karena keamanan dan kedamaian adalah tanggung jawab kita bersama," ujar Kapolres
Flores Timur.
Hingga saat ini, pengamanan terus dilakukan dengan melibatkan 157 personel gabungan yang terdiri dari BKO Brimob Ende, BKO Brimob Kupang, BKO Jibom Brimob, personel Polres Flores Timur, serta personel Polsek jajaran dan ditambah lagi personel dari Koramil 1624-02 Adonara.
Kehadiran personel gabungan di lapangan merupakan bentuk komitmen negara dalam memberikan rasa aman kepada seluruh masyarakat.
Polres Flores Timur mengajak seluruh tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh perempuan, serta seluruh elemen masyarakat untuk terus menjadi penyejuk dan penguat persaudaraan di tengah situasi yang berkembang.
Dengan semangat kebersamaan, kekeluargaan, dan budaya musyawarah yang telah lama hidup di tanah Adonara, diharapkan setiap persoalan dapat diselesaikan secara damai, bermartabat, dan tetap menjaga persatuan demi terciptanya stabilitas kamtibmas yang berkelanjutan di wilayah Kabupaten Flores Timur.
Baca Juga: Siswa SDN Nefosaka Kupang Belajar Mengenal Satwa Dan Tanaman di KHDTK Oelsonbai