Harga Minyak Dunia Melonjak di Tengah Kebuntuan Perundingan AS-Iran

Arie - Selasa, 02 Juni 2026 09:00 WIB
net
Ilustrasi harga minyak dunia.

digtara.com - Harga minyak dunia mengalami lonjakan signifikan pada perdagangan Senin (1/6/2026) setelah muncul indikasi bahwa perundingan damai antara Iran dan Amerika Serikat (AS) menemui jalan buntu.

Mengutip laporan New York Times, Selasa (2/6/2026), harga minyak mentah Brent sebagai acuan global naik lebih dari 4,2 persen menjadi sekitar US$94,98 per barel. Kenaikan ini menjadi yang terbesar dalam hampir satu bulan terakhir.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), yang menjadi patokan harga minyak di AS, melonjak lebih dari 5,5 persen ke level US$92,16 per barel. Penguatan tersebut merupakan kenaikan harian terbesar sejak akhir April.

Kenaikan harga dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global setelah negosiasi antara Iran dan AS terkait perpanjangan gencatan senjata serta pembukaan kembali Selat Hormuz terancam gagal.

Sebelumnya, kedua negara membahas upaya meredakan konflik dan membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut. Namun, situasi kembali memanas setelah Iran, AS, dan Israel saling melancarkan serangan serta mengeluarkan ancaman eskalasi lanjutan.

Pemerintah AS mengonfirmasi telah melakukan serangan ke wilayah Iran pada akhir pekan lalu. Sebagai respons, Garda Revolusi Iran mengumumkan serangan terhadap pangkalan udara milik AS sebagai balasan atas serangan yang menargetkan fasilitas komunikasi mereka.

Baca Juga: Iran Tunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Baru, Harga Minyak Dunia Melonjak

Ketidakpastian tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap keberlangsungan pasokan minyak dunia, terutama jika Selat Hormuz tetap tertutup. Jalur tersebut merupakan salah satu rute perdagangan energi paling vital di dunia.

Kepala Strategi Komoditas Global RBC Capital Markets, Helima Croft, mengatakan kekhawatiran pasar mulai meningkat meski belum terlihat secara terbuka.

"Telah terjadi kepanikan yang berkembang secara diam-diam," ujarnya.

Menurut data Badan Energi Internasional (IEA), konflik yang melibatkan Iran telah menyebabkan negara-negara di kawasan Teluk Persia memangkas produksi lebih dari 14 juta barel per hari. Jumlah tersebut setara dengan hampir 14 persen pasokan minyak dunia sebelum konflik berlangsung.

Sejumlah faktor memang membantu meredam dampak gangguan pasokan, seperti menurunnya impor minyak China, pelepasan cadangan energi oleh berbagai negara, serta peningkatan produksi dari AS, Kanada, Brasil, dan sejumlah negara produsen lainnya.

Namun, para pelaku industri energi mulai mengkhawatirkan terus menurunnya persediaan minyak mentah maupun bahan bakar seperti bensin dan solar.


Wakil Presiden Senior Exxon Mobil dalam sebuah konferensi pekan lalu menyebut tingkat persediaan energi saat ini mendekati titik terendah dan diperkirakan akan mencapai level kritis dalam dua hingga tiga pekan mendatang.

"Ketika titik itu tercapai, harga akan melonjak tajam," katanya.

Di sisi lain, Amerika Serikat saat ini terus mengandalkan cadangan minyak strategis federal untuk menjaga pasokan. Berdasarkan analisis data Energy Information Administration (EIA), cadangan strategis AS diperkirakan akan menyentuh level terendah sejak 1983 apabila laju penarikan sekitar 9 juta barel per pekan terus berlanjut.

Situasi geopolitik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda membuat pasar energi global diperkirakan tetap berada dalam kondisi volatil dalam beberapa waktu ke depan.


Tag:

Berita Terkait

Nusantara

Iran Tunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Baru, Harga Minyak Dunia Melonjak

Nusantara

Selat Hormuz Lumpuh, Harga Minyak Dunia Melambung Tembus 82 Dolar AS

Nusantara

Serangan AS-Israel ke Iran Ancam Harga Minyak dan Picu Risiko Resesi Global

Nusantara

Siap-siap! Chevron akan PHK 20 Persen Karyawannya Tahun Depan

Nusantara

Meroket! Harga Minyak Goreng dan Cabai Merah di Padangsidimpuan

Nusantara

Harga Minyak Anjlok Gegara Dolar AS dan Kebijakan Arab Saudi