digtara.com -Seorang ibu rumah tangga (IRT) di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) pergi meninggalkan rumah sehingga menyisakan tanda tanya sekaligus keprihatinan mendalam bagi keluarga.
Sejak Senin, 3 Agustus 2026, Lusia Luju (36) yang juga warga Dusun Dobo, RT 002/RW 001, Desa Iantena, Kecamatan Kewapante,
Kabupaten Sikka ini dilaporkan menghilang dari rumah tanpa sepengetahuan suami dan keempat anaknya.
Namun, sebelum meninggalkan rumah, Lusia menuliskan sepucuk surat yang kemudian menjadi petunjuk paling penting dalam penyelidikan kepolisian.
Surat tersebut mengisyaratkan bahwa dirinya pergi bukan karena persoalan rumah tangga ataupun orang lain, melainkan karena tekanan keadaan yang diduga berkaitan dengan persoalan ekonomi keluarga.
Kasus ini kini ditangani Polsek Kewapante setelah suami korban, Yohanes Don Bosko Kardianus, secara resmi melaporkan peristiwa tersebut sebagai laporan orang hilang.
Laporan ini tertuang dalam laporan nomor L/GANGGUAN/B/14/VIII/2026/SPKT/POLSEK KEWAPANTE/POLRES SIKKA/POLDA NUSA TENGGARA TIMUR, tanggal 4 Agustus 2026.
Baca Juga: Bertengkar Masalah Sertifikat Tanah, IRT di Malaka Tewas Ditebas Dengan Parang Dihadapan Anaknya
Hasil penyelidikan awal dipimpin Kapolsek Kewapante, Iptu Chairil Syafar bersama Kanit Intelkam dan personel piket, diperoleh rangkaian fakta yang menggambarkan detik-detik sebelum Lusia menghilang.
Minggu, 2 Agustus 2026 malam, kehidupan keluarga itu berjalan sebagaimana biasanya.
Sekitar pukul 19.00 WITA mereka masih sempat makan malam bersama. Menjelang malam, Lusia bahkan masih memperhatikan anak-anaknya.
Menurut keterangan putri sulungnya, Makrina Densiana Nirang, sebelum tidur sang ibu sempat mengatakan akan mengobati adiknya yang mengeluh sakit di bagian pinggang.
Sekitar pukul 22.00 WITA seluruh anggota keluarga beristirahat. Yohanes tidur di kamar sebelah kiri bersama anak bungsunya, sementara Lusia berada di kamar sebelah kanan bersama tiga anak lainnya.
Tidak ada pertengkaran, tidak ada keributan, maupun gelagat mencurigakan yang dirasakan keluarga malam itu.
Senin pagi sekitar pukul 06.00 WITA, suasana berubah drastis. Yohanes tidak lagi menemukan istrinya di dalam rumah.
Awalnya ia mengira Lusia pergi ke kebun seperti biasanya. Dugaan itu diperkuat oleh jawaban anaknya yang menyebut sang ibu kemungkinan sedang mencabut ubi kayu.
Yohanes menuju kebun. Akan tetapi, Lusia tidak berada di sana. Pencarian pun dilakukan secara bertahap ke sejumlah lokasi.
Mulai dari kebun-kebun sekitar rumah, kediaman keluarga di Maget Legar, hingga rumah adik korban di Hewokloang. Semua upaya tersebut tidak membuahkan hasil.
Baca Juga: Tersesat di Gunung Egon, Dua Pendaki Ditemukan Selamat Saat kembali ke rumah, keluarga menemukan fakta lain yang semakin menguatkan dugaan bahwa kepergian Lusia telah direncanakan.
Korban membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP), buku pinjaman Koperasi Pintu Air, tas tangan warna hitam, serta sebuah telepon genggam Nokia sederhana.
Di rumah, Lusia juga meninggalkan sepucuk surat yang ditujukan kepada suami dan anak-anaknya.
Dalam surat itu, ia menuliskan permohonan maaf karena pergi tanpa berpamitan. Ia meminta agar keluarga tidak mengkhawatirkannya dan menegaskan bahwa kepergiannya bukan karena orang lain.
Ia menulis bahwa dirinya pergi "karena keadaan" dan berjanji akan kembali setelah berhasil melunasi hutang keluarga.
Lusia juga menjelaskan bahwa buku Koperasi Pintu Air sengaja dibawanya untuk keperluan membayar angsuran.
Pada bagian akhir surat, ia berpesan agar anak-anak saling menjaga dan tetap mendoakan dirinya karena ia pun akan selalu mendoakan keluarga.
Surat tersebut menjadi petunjuk penting bagi penyidik dalam mengurai motif di balik kepergian korban.
Baca Juga: Bertengkar Masalah Sertifikat Tanah, IRT di Malaka Tewas Ditebas Dengan Parang Dihadapan Anaknya Hasil pendalaman kepolisian mengungkap bahwa keluarga Lusia memiliki pinjaman di salah satu koperasi yang telah menunggak selama kurang lebih enam bulan.
Informasi tersebut dinilai relevan dengan isi surat yang menyinggung keinginan korban menyelesaikan beban utang keluarga.
Selain itu, dari keterangan keluarga diketahui bahwa Lusia dikenal sebagai pribadi yang pendiam dan tidak banyak bercerita mengenai persoalan yang dihadapinya.
Ia juga diketahui memiliki akun Facebook dengan nama "Yuni Sary", yang kini turut menjadi salah satu petunjuk yang akan ditelusuri penyidik.
Kapolsek Kewapante bersama tim telah melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi, termasuk suami korban, anak sulung korban, serta anggota keluarga lainnya.
Hingga berakhirnya kegiatan penyelidikan pada Selasa malam pukul 22.00 WITA, belum ditemukan petunjuk yang memastikan keberadaan Lusia.
Berdasarkan fakta-fakta yang berhasil dihimpun, penyidik sementara belum menemukan indikasi adanya tindak pidana seperti penculikan ataupun kekerasan yang mendahului hilangnya korban.
Seluruh keterangan saksi mengarah bahwa Lusia meninggalkan rumah atas kehendaknya sendiri dengan membawa sejumlah barang pribadi dan meninggalkan pesan tertulis kepada keluarganya.
Meski demikian, status Lusia tetap sebagai orang hilang sehingga proses pencarian dan penyelidikan terus dilakukan.
Polisi masih melakukan penelusuran terhadap kemungkinan keberadaan korban melalui jaringan keluarga, kerabat, aktivitas media sosial, hingga berbagai sumber informasi lain yang dapat membantu menemukan keberadaan ibu empat anak tersebut.
Baca Juga: Tersesat di Gunung Egon, Dua Pendaki Ditemukan Selamat Hingga kini, Lusia Luju masih dalam pencarian, sementara keluarga terus berharap ia segera kembali dalam keadaan selamat sebagaimana janji yang ia tuliskan dalam suratnya.