digtara.com -Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera mempercepat pemulihan permanen di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Salah satu fokus utama adalah pembangunan 85 hunian tetap (huntap) terpadu bagi keluarga terdampak bencana di Nagari Puluik-Puluik Selatan, Kecamatan IV Nagari Bayang Utara.
Persiapan pembangunan hunian tetap tersebut kini telah memasuki tahap akhir. Sejumlah proses penting seperti alas hak, pemetaan, dan appraisal lahan telah diselesaikan.
Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan saat ini menyelesaikan proses administrasi dan pembayaran lahan sebelum menyerahkannya kepada Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) untuk memulai pembangunan fisik.
85 Huntap Pesisir Selatan Segera Masuk Tahap KonstruksiKepala Posko Nasional Satgas PRR, Irjen Pol. Wahyu Bintono Hari Bawono, mengatakan pembangunan fisik harus segera dimulai setelah lahan siap digunakan.
"Kementerian PKP/Kementerian Pekerjaan Umum segera menerbitkan SPK dan memulai konstruksi fisik 85 unit Huntap Terpadu begitu proses pembayaran lahan diserahterimakan oleh Pemkab," ujar Wahyu dalam laporan hasil monitoring dan evaluasi di Pesisir Selatan.
Pembangunan huntap tersebut diharapkan menjadi solusi permanen bagi keluarga yang masih terdampak bencana dan mempercepat proses pemulihan kehidupan masyarakat.
Baca Juga: Rasa Syukur dan Harapan Pulih Permanen Tumbuh di Huntara Aceh Tamiang
53 Hunian Sementara Telah DisediakanSembari menunggu pembangunan hunian tetap,
Satgas PRR telah menyediakan 53 unit hunian sementara di Kecamatan Bayang Utara.
Hunian sementara tersebut terdiri atas:
22 unit di Limau Manis.
31 unit di Taluak Baru, Nagari Puluik-Puluik.
Selain hunian sementara, pemerintah juga telah menyalurkan dana tunggu hunian selama tiga bulan.
Pada tahap pertama, bantuan diberikan kepada 35 kepala keluarga, sedangkan tahap kedua disalurkan kepada 38 kepala keluarga.
Pemulihan Sosial Terus BerjalanPemulihan sosial di Kabupaten Pesisir Selatan juga terus dilakukan.
Penanganan pengungsi dan santunan duka telah tuntas sepenuhnya. Sementara itu, Kementerian Sosial menargetkan penyaluran bantuan Jaminan Hidup (Jadup) dan paket isi hunian dapat diselesaikan pada September 2026.
Bantuan tersebut diharapkan dapat mendukung masyarakat selama proses transisi menuju kondisi kehidupan yang lebih stabil.
Baca Juga: Satgas PRR Pacu Pemulihan Sawah Aceh Seluas 57 Ribu Hektare Jelang Musim Tanam
Sedimentasi dan Abrasi Sungai Jadi PerhatianSelain pembangunan hunian,
Satgas PRR memberikan perhatian terhadap kondisi sungai di sejumlah wilayah Pesisir Selatan.
Sedimentasi dan abrasi tebing sungai menjadi perhatian di Nagari Kapelgam, Kecamatan Bayang, serta Nagari Koto Ranah, Kecamatan IV Nagari Bayang Utara.
Kondisi tersebut perlu segera ditangani untuk mencegah luapan sungai yang berpotensi kembali mengancam permukiman dan akses masyarakat.
Pemerintah daerah telah menyiapkan paket pengendalian banjir DAS Pesisir Selatan di tujuh titik prioritas dengan nilai Rp42 miliar.
Program tersebut turut didukung anggaran APBD bidang pengelolaan sumber daya air sebesar Rp8,1 miliar dan Rp4,6 miliar.
Sementara itu, kebutuhan pengamanan tebing di Muaro Aia, Nagari Koto Ranah, diusulkan melalui sejumlah sumber pendanaan, yakni Hibah Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB, DAK Fisik Keairan, serta R3P daerah.
Baca Juga: Rasa Syukur dan Harapan Pulih Permanen Tumbuh di Huntara Aceh Tamiang Infrastruktur Dasar Mulai PulihPemulihan layanan dasar di Pesisir Selatan juga menunjukkan perkembangan positif.
Dua titik jalan nasional yang sebelumnya mengalami kerusakan berat telah kembali pulih. Pasokan listrik, jaringan internet, serta layanan SPBU juga telah kembali normal.
Di sektor air bersih, rehabilitasi terhadap 11 Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang terdampak bencana terus dilakukan secara bertahap.
Dengan pembangunan 85 huntap terpadu yang segera memasuki tahap konstruksi serta pemulihan infrastruktur dasar yang terus berjalan, Satgas PRR bersama pemerintah daerah terus mendorong agar pemulihan Kabupaten Pesisir Selatan dapat berlangsung lebih cepat dan berkelanjutan.