digtara.com -Kapolres Manggarai, AKBP Levi Defriansyah menyampaikan rilis resmi perkembangan terkini dampak bencana gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 SR yang mengguncang wilayah Kabupaten Manggarai.
Hingga Kamis, 20 Agustus 2026, data korban dan kerusakan masih terus diperbarui berdasarkan laporan dari lapangan.
Terjadi penambahan dua orang korban meninggal dunia, masing-masing satu orang di RSUD Ruteng dan satu orang bayi di Kecamatan Reok yang lahir di Posko Pengungsian Barang Kolo pada 19 Agustus 2026.
Dengan penambahan tersebut, maka total korban meninggal dunia akibat gempa bumi di Kabupaten Manggarai saat ini menjadi 30 orang, dari sebelumnya 28 orang.
Di RSUD Ruteng ada empat orang meninggal dunia yakni Romanus Tangkang, Yohana Madi, Herlina Matildis Bire (43) dan Serfolus Mansur (60).
Dua orang meninggal di Kecamatan Langke Rembong yakni Agustinus Magul dan Stevanus Jedaut
Baca Juga: Tim Psikologi Polda NTT dan Jatim Hadirkan Trauma Healing untuk Pengungsi Gempa di Maukaro-Ende
Di Kecamatan Reok ada 14 orang korban meninggal dunia yakni Resny (21), Faisal (42), Habibi (7) Ruslin Ahmad (61), Hamide (70), Asia (76) dan Stefano Bernadito (37).
Selain itu Supriadin (45), Hendrikis Gampur (31), Yurnimia Yuldis (55), Heliana Plate (67), Yustina Rominceana Mbawo (39), Rahman Ahmad (37) dan bayi baru lahir dari Ibu Celina Ocin (22)
Kecamatan Reok Barat empat orang yakni Mustamin (65), Rinto Harahap (45), Bunga Sari (40) dan Bibeng (50)
Kecamatan Cibal empat orang yakni Fabianus Efika Jas, Rosalia Didung (68), Monika Impe dan Yuliana Kartini Amal.
Kecamatan Cibal Barat satu orang yakni Kristina Sri Murti (54). Kecamatan Satar Mese Utara satu orang yakni Maria Maus (92)
Total kerusakan tercatat sebanyak 6.309 fasilitas yakni fasilitas pemerintah 37 unit, fasilitas pendidikan 230 unit, fasilitas umum/tempat ibadah 13 unit, fasilitas masyarakat 5.988 unit dan fasilitas kesehatan 41 unit.
Saat ini terdapat 58 posko pengungsian yang tersebar di sejumlah kecamatan di Kabupaten Manggarai.
Ribuan warga masih bertahan di lokasi aman sambil menunggu kondisi kembali stabil.
Penanganan bencana melibatkan unsur gabungan Polri 100 personel, TNI 31 personel, Brimob 68 personel, Basarnas lima personel dan BPBD enam personel.
Untuk mempermudah pendataan dan pengawasan, Polres Manggarai juga menempatkan perwira pengendali di masing -masing posko pengungsian
Baca Juga: Wapres Kunjungi Flores-NTT Bertemu Korban dan Warga Terdampak Gempa di Kabupaten Sikka Selain melakukan pendataan juga untuk melakukan koordinasi dengan seluruh unsur kerkait dan terus bersinergi dalam evakuasi, pelayanan pengungsi, distribusi bantuan, serta patroli keamanan di wilayah terdampak.
Selain melakukan pendataan dan penanganan dampak bencana, Polres Manggarai bersama Polda NTT terus menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat terdampak.
Bantuan tersebut difokuskan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, minuman, serta kebutuhan pokok lainnya guna meringankan beban para korban.
Polres Manggarai juga memastikan distribusi bantuan dilakukan secara tepat sasaran kepada warga yang benar-benar terdampak.
Polres Manggarai mengimbau kepada seluruh masyarakat agar tidak panik dan tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan.
Masyarakat diminta untuk tetap berada di lokasi aman atau posko pengungsian. Mengikuti arahan petugas di lapangan dan tidak mudah percaya dan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi
Polres Manggarai bersama seluruh unsur terkait akan terus melakukan pemantauan, evakuasi, serta pembaruan data secara berkala sesuai perkembangan di lapangan.
Kapolres Manggarai menegaskan bahwa situasi masih dalam penanganan dan seluruh personel tetap siaga penuh demi keselamatan masyarakat.
Polres Manggarai berkomitmen untuk terus mendata warga terdampak, memastikan bantuan tersalurkan dengan baik, serta menjaga situasi tetap kondusif di wilayah Kabupaten Manggarai.
Baca Juga: Tim Psikologi Polda NTT dan Jatim Hadirkan Trauma Healing untuk Pengungsi Gempa di Maukaro-Ende