Akses Terbatas, Warga Korban Gempa di Pulau Palu'e-Sikka Dievakuasi Pakai Helikopter

Imanuel Lodja - Sabtu, 22 Agustus 2026 12:30 WIB
ist
Helikopter saat mengevakuasi korban gempa dari Pulau Palu'e

digtara.com -Gempa magnitudo 7,7 pada akhir pekan lalu banyak berdampak bagi warga di Flores, NTT.

Akses darat dan laut menghadapi keterbatasan akibat bencana, jalur udara menjadi jalan tercepat untuk menyelamatkan warga yang membutuhkan pertolongan medis.

Ditengah situasi darurat pascagempa bumi yang mengguncang wilayah Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, dua warga terdampak berhasil dievakuasi menuju Maumere, Jumat (21/8/2026).

Keduanya memiliki kondisi yang membutuhkan penanganan segera. Maria Noni (71), warga Cawalo, Desa Rokirole, mengalami patah tulang paha kiri bagian bawah setelah tertimpa reruntuhan bangunan rumah.

Sementara Maria Angela Ngei (30), warga Desa Rokirole, harus dievakuasi dalam kondisi hamil dan siap bersalin.

Proses evakuasi dimulai sekitar pukul 10.28 WITA di lapangan futsal Karang Mas, Dusun Mudemi, Desa Reruwairere, Kecamatan Maumere.

Baca Juga: Pamit Cari Ikan, Warga Malaka Ditemukan Meninggal Dunia Dalam Kali

Dua armada udara dikerahkan, yakni Helikopter BNPB Airbus H125 9292 dan Helikopter PK-CAY BEII429, untuk mendukung proses pemindahan korban dari wilayah Palue menuju daratan Maumere.

Bagi kedua korban, helikopter menjadi jembatan keselamatan ketika kondisi geografis dan situasi pascabencana membuat akses menuju fasilitas kesehatan menjadi tidak mudah.

Maria Noni, perempuan berusia 71 tahun, mengalami cedera serius setelah tubuhnya terdampak runtuhan bangunan rumah akibat gempa.

Patah tulang paha yang dialaminya membutuhkan penanganan medis lebih lanjut agar kondisinya dapat segera ditangani secara tepat.

Di sisi lain, Maria Angela Ngei berada dalam kondisi yang tak kalah membutuhkan perhatian.

Dalam keadaan hamil dan siap bersalin, ia membutuhkan pemantauan tenaga kesehatan secara lebih intensif, terlebih dalam situasi darurat pascabencana.

Kondisi kedua korban menjadi alasan kuat dilakukannya evakuasi melalui jalur udara. Kecepatan menjadi faktor penting agar keduanya dapat segera memperoleh pemeriksaan dan penanganan medis lanjutan di Maumere.

Para korban mendapatkan pendampingan selama proses pemindahan hingga menuju armada udara. Kondisi mereka dipantau agar proses evakuasi dapat berlangsung dengan aman.

Evakuasi dalam situasi bencana membutuhkan ketepatan di setiap tahapan. Mulai dari pemindahan korban, penempatan di dalam armada, hingga perjalanan menuju lokasi tujuan, seluruh proses harus memperhatikan kondisi masing-masing korban.

Bagi Maria Noni, cedera akibat reruntuhan membutuhkan penanganan dengan memperhatikan kondisi tulang yang mengalami patah. Sementara bagi Maria Angela, kondisi kehamilan yang sudah siap bersalin membutuhkan pengawasan medis agar keselamatan ibu dan calon bayi tetap menjadi prioritas.

Baca Juga: Sambil Duduk Lesehan, Kapolda dan Wakapolda NTT Dengarkan Curhatan Warga Korban Gempa di Tenda Pengungsian

Pulau Palue sendiri memiliki tantangan geografis tersendiri. Dalam situasi pascabencana, keterbatasan akses semakin terasa ketika warga membutuhkan pelayanan medis dengan segera.


Karena itu, jalur udara menjadi pilihan strategis untuk memperpendek waktu tempuh antara wilayah terdampak dengan fasilitas kesehatan di daratan.

Setelah seluruh persiapan selesai, kedua korban kemudian dievakuasi menggunakan helikopter menuju Maumere untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis lebih lanjut.

Rangkaian proses evakuasi selesai sekitar pukul 11.35 WITA. Seluruh kegiatan berlangsung aman, lancar dan kondusif.

Dua warga Palue pun berhasil meninggalkan wilayah terdampak untuk mendapatkan pertolongan yang lebih memadai.

Peristiwa ini kembali menunjukkan bahwa dalam situasi bencana, penanganan tidak hanya membutuhkan bantuan logistik, tetapi juga kecepatan dalam menyelamatkan warga yang berada dalam kondisi kritis atau rentan.

Ketika jalur darat dan laut menghadapi tantangan, langit ditembus demi satu tujuan: memastikan masyarakat yang membutuhkan pertolongan tidak kehilangan waktu untuk mendapatkan pelayanan medis.

Baca Juga: Pamit Cari Ikan, Warga Malaka Ditemukan Meninggal Dunia Dalam Kali

Evakuasi Maria Noni dan Maria Angela Ngei menjadi gambaran nyata bahwa dalam penanganan bencana, waktu adalah keselamatan, koordinasi adalah kekuatan, dan kemanusiaan adalah prioritas.

Polri bersama seluruh unsur terkait terus bergerak memastikan masyarakat terdampak bencana tidak menghadapi masa sulit seorang diri.

Editor
: Arie

Tag:

Berita Terkait

Nusantara

Relawan Meninggal Dunia Saat Antar Bantuan Kemanusiaan ke Lokasi Gempa di Manggarai Timur

Nusantara

Umat Muslim Polresta Kupang Kota Doakan Korban Gempa Flores

Nusantara

Pohon Tumbang di Depan Sekolah di Kupang Nyaris 'Makan Korban'

Nusantara

Tim SAR Kerahkan Tambahan Tenaga Kesehatan Perkuat Layanan Kesehatan di Manggarai Timur

Nusantara

Warga Mengungsi Karena Rumah Rusak Terkena Gempa, Kerbau Malah Dicuri Orang

Nusantara

Pamit Cari Ikan, Warga Malaka Ditemukan Meninggal Dunia Dalam Kali