digtara.com -Ketua Palang Merah Indonesia (PMI), Muhammad Jusuf Kalla, datang langsung ke Maumere, Kabupaten Sikka untuk melihat dari dekat kondisi masyarakat yang terdampak bencana.
Jusuf Kalla tiba di Maumere pada Jumat (28/8/2026) menggunakan jet pribadi tipe E35L registrasi T7-187,
Jusuf Kalla bersama rombongan tiba di Bandara Frans Seda Maumere sekitar pukul 09.40 Wita.
Rombongan tersebut turut diikuti Delegation IFRC, Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, Kathryn Clarkson; Ketua PMI Provinsi NTT sekaligus mantan Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi yang juga ketua PMI NTT serta para Ketua PMI se-daratan Flores.
Jusuf Kalla dan rombongan kemudian ke Posko Pengungsian Terpusat Bencana Alam Gempa Bumi di Gelora Samador, Jalan Gajah Mada, Kelurahan Madawat, Kecamatan Alok untuk melihat langsung wajah masyarakat yang sedang berjuang bangkit dari bencana.
Selama sekitar 40 menit, sejak pukul 09.55 hingga 10.35 Wita, Jusuf Kalla meninjau kondisi pengungsi sekaligus menyerahkan bantuan secara simbolis.
Dalam kesempatan tersebut, Jusuf Kalla menegaskan bahwa fase penanganan bencana tidak boleh berhenti pada penyelamatan dan pemberian bantuan darurat.
Baca Juga: Mantan Wapres Jusuf Kalla Keliling Flores Pantau Korban Gempa Bumi
Menurutnya, pekerjaan besar justru menanti setelah masa tanggap darurat, yakni rehabilitasi dan rekonstruksi kehidupan masyarakat.
Ia menekankan pentingnya percepatan pemulihan agar aktivitas masyarakat kembali berjalan normal. Anak-anak, kata dia, harus segera kembali mendapatkan pendidikan, sementara rumah-rumah warga yang rusak harus segera diperbaiki.
Pesan itu menjadi penting karena bencana tidak hanya menghancurkan bangunan. Gempa juga memukul kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat, memaksa warga meninggalkan rumah, mengganggu aktivitas pendidikan, serta menciptakan kebutuhan kemanusiaan yang terus bergerak dari hari ke hari.
PMI, kata Jusuf Kalla, terus berupaya mengambil bagian dalam proses tersebut. Kapal PMI bahkan telah tiba di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat untuk memberikan pelayanan dan dukungan kemanusiaan bagi masyarakat di daratan Flores.
Ia juga menyampaikan bahwa berbagai organisasi, baik pemerintah maupun non pemerintah, terus bergerak memberikan bantuan, baik berupa kebutuhan material maupun dukungan nonmaterial.
Dalam waktu dekat,
PMI juga akan menyalurkan bantuan bagi masyarakat Kabupaten Sikka melalui Bupati Sikka sebagai bagian dari dukungan terhadap percepatan penanganan dan pemulihan masyarakat terdampak bencana.
Bantuan simbolis yang diserahkan kepada pengungsi berupa paket kebutuhan sehari-hari. Didalamnya terdapat sabun mandi, sampo, sikat gigi, pasta gigi, sabun cuci, pembalut dan handuk.
Bagi masyarakat yang hidup dalam kondisi pengungsian, kebutuhan dasar semacam itu menjadi bagian penting dari keberlangsungan hidup sehari-hari.
Dari Gelora Samador, rombongan bergerak menuju Posko Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi Flores PMI Kabupaten Sikka.
Di tempat tersebut, Ketua PMI Kabupaten Sikka Gervatius Fortasius Mude menyampaikan gambaran kebutuhan kemanusiaan yang masih mendesak kepada Jusuf Kalla.
Baca Juga: Ratusan Warga dari Posko Pengungsian Maumere Kembali Dipulangkan Gempa bumi yang terjadi pada 15 Agustus 2026 telah menimbulkan dampak luas di wilayah Kabupaten Sikka. Kondisi tersebut menjadi semakin berat karena masyarakat kini menghadapi musim kemarau panjang.
Namun, dari seluruh wilayah terdampak, Pulau Palue menjadi salah satu titik yang mendapat perhatian khusus.
Kebutuhan air bersih menjadi persoalan yang sangat mendesak. Keterbatasan sumber daya dan kondisi geografis membuat distribusi bantuan ke wilayah kepulauan tersebut membutuhkan dukungan logistik, sarana transportasi dan komunikasi yang memadai.
Selain air bersih, PMI Kabupaten Sikka juga menyampaikan kebutuhan mendesak berupa alat komunikasi HT, kendaraan operasional, terpal, tenda, alas tidur, peralatan dapur umum, baby kit, hygiene kit, family kit, tandon air, selimut serta perlengkapan untuk balita.
Sekitar pukul 11.05 Wita, rombongan tiba di Posko Komando Tanggap Darurat Gempa Bumi Tektonik BPBD Kabupaten Sikka.
Di hadapan Jusuf Kalla, Bupati Sikka memaparkan kondisi Kabupaten Sikka secara menyeluruh, termasuk dampak gempa tektonik berkekuatan 7,7 SR yang mengguncang wilayah tersebut.
Bupati menjelaskan bahwa pemerintah daerah memberikan perhatian khusus terhadap wilayah tersebut. Untuk meningkatkan efektivitas penanganan, telah dibangun Posko Lapangan Palue.
Baca Juga: Mantan Wapres Jusuf Kalla Keliling Flores Pantau Korban Gempa Bumi Di tengah keterbatasan sumber daya, pemerintah bersama seluruh unsur terkait terus bergerak dan bekerja secara bersama-sama untuk menangani dampak bencana.
Pemerintah daerah membutuhkan dukungan pemerintah pusat, lembaga kemanusiaan, TNI-Polri, relawan, organisasi masyarakat, dunia usaha hingga masyarakat sendiri.
Sementara itu, Plt. Kepala BPBD Kabupaten Sikka Petrus Poling Waimahing memaparkan kondisi penanganan bencana secara lebih rinci.
Paparan tersebut mencakup gambaran umum wilayah Kabupaten Sikka, wilayah yang terdampak gempa, korban jiwa, korban luka berat dan ringan, kerusakan rumah warga, serta kerusakan fasilitas umum seperti tempat ibadah, fasilitas pendidikan, kesehatan dan jalan.
BPBD juga menyampaikan kondisi pengungsi yang sebelumnya tersebar di sejumlah kecamatan. Dari 10 posko pengungsian yang sebelumnya tersedia, saat ini tersisa lima posko.
Bantuan yang masuk juga telah dicatat dan dikelola untuk kemudian didistribusikan sesuai kebutuhan masyarakat.
Distribusi bantuan telah dilakukan ke 21 kecamatan di wilayah Kabupaten Sikka. Selain itu, Posko Komando Tanggap Darurat Gempa Bumi Tektonik BPBD Kabupaten Sikka juga telah membuka rekening donasi sebagai bagian dari upaya memperkuat dukungan kemanusiaan.
Jusuf Kalla kemudian memberikan pandangan mengenai fase penanganan pascabencana.
Menurutnya, Indonesia merupakan negara yang sering menghadapi bencana. Namun, dari berbagai kejadian tersebut, masyarakat juga belajar untuk semakin responsif terhadap ancaman.
Ketika gempa besar terjadi, masyarakat kini lebih cepat bergerak menuju dataran tinggi sebagai bentuk antisipasi terhadap kemungkinan tsunami.
Baca Juga: Ratusan Warga dari Posko Pengungsian Maumere Kembali Dipulangkan
Namun, persoalan tidak berhenti ketika gempa berakhir. Menurut
Jusuf Kalla, salah satu pekerjaan paling sulit justru berada pada tahap rekonstruksi.
Bangunan yang rusak harus dibangun kembali. Fasilitas publik harus dipulihkan. Kehidupan ekonomi harus digerakkan. Anak-anak harus kembali ke sekolah. Dan masyarakat harus kembali memperoleh rasa aman untuk menjalani kehidupan normal.
Dalam kondisi kemampuan anggaran pemerintah yang terbatas, semangat gotong royong menjadi sangat penting. Masyarakat tidak hanya diposisikan sebagai penerima bantuan, tetapi juga harus dilibatkan dalam proses pemulihan.
Jusuf Kalla bahkan mendorong keterlibatan mahasiswa teknik dalam proses rekonstruksi agar pekerjaan dapat dilakukan lebih cepat, tepat dan mudah.
Setelah rangkaian peninjauan dan rapat koordinasi di posko tanggap darurat, Jusuf Kalla bersama rombongan melaksanakan shalat Jumat di Masjid Al-Muhajirin Perumnas, Jalan Melati Raya, Kelurahan Madawat, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka.
Kunjungan kemudian dilanjutkan ke UTD PMI Kabupaten Sikka diterima Wakil Ketua PMI Kabupaten Sikka Gabriel Ola, bersama staf.
Meski berlangsung singkat, kunjungan tersebut menjadi bagian dari rangkaian pemantauan langsung terhadap kesiapan PMI di daerah dalam mendukung operasi kemanusiaan pascabencana.
Baca Juga: Mantan Wapres Jusuf Kalla Keliling Flores Pantau Korban Gempa Bumi Di balik data korban, jumlah rumah rusak dan daftar fasilitas umum yang terdampak, ada keluarga-keluarga yang ingin segera kembali ke rumah, anak-anak yang ingin kembali ke sekolah, serta masyarakat yang ingin kembali bekerja dan menjalani kehidupan seperti sebelum bencana.
Persoalan air bersih, keterbatasan akses, kebutuhan sarana komunikasi dan dukungan logistik menjadikan wilayah tersebut membutuhkan perhatian berkelanjutan.
Karena itu, kedatangan PMI Pusat bukan sekadar membawa bantuan. Lebih dari itu, kunjungan tersebut menjadi sinyal bahwa persoalan kemanusiaan di Sikka, terutama wilayah terdampak berat seperti Palue, harus tetap berada dalam radar perhatian bersama.