Pernah Hidup Susah, Bripka Yunus Labba Bangun Panti Asuhan

Imanuel Lodja - Senin, 01 Juli 2019 07:22 WIB

Warning: getimagesize(https://cdn.digtara.com/uploads/images/201907/Bripka-Yunus-Labba-Bangun-Panti-Asuhan-e1561965702208.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u398301689/domains/digtara.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u398301689/domains/digtara.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u398301689/domains/digtara.com/public_html/amp/detail.php on line 172

Digtara.com | KUPANG – Bripka Yunus Labba menyadari betul pentingnya hidup saling membantu dan menolong. Masa kecilnya di Kupang yang susah menginspirasinya berbuat kebaikan bagi sesama.

Yunus, anak dari pasangan Kornelis Beri Labba dan Bilha Labba Ullu merasakan benar perjuangan hidup termasuk saat menyelesaikan pendidikan di SDN Sikumana 1, SMP Ki Hajar Dewantoro dan SMA negeri 6 Kupang. Ia pun pernah merasakan hidup di panti asuhan saat masih kecil.

Cara menolong sesama ditempuh dengan menampung puluhan anak-anak dirumah sederhananya di Jalan HR Koroh Kilometer 8 Kelurahan Belo Kecamatan Maulafa Kota Kupang Provinsi NTT sejak tahun 2006.

Dari waktu ke waktu, anak yang diasuh makin banyak dan ia pun membentuk panti asuhan ‘Generasi Pengubah’. Panti asuhan yang dibangun sejak 2016 ini berada dibawah yayasan El Roi Kanaan Kupang.

Lahan yang cukup luas disekeliling rumahnya perlahan-lahan dibangun atas bantuan berbagai pihak dan saat ini sudah menjadi panti asuhan yang menampung 49 orang anak.

Sejak awal, bintara lulusan tahun 2003 ini tidak merencanakan membangun panti asuhan. Namun saat menjalani pendidikan sebagai anggota Polri di lembaga pendidikan SPN Polda NTT, ia memang terinspirasi dengan perjuangan menjadi anggota Polri dan kesulitan hidup dimasa kecil. Ia pun memiliki tekad membantu sesama walau dengan biaya terbatas.

Yunus Labba, anggota Polri yang bertugas di Dit Binmas Polda NTT ini merupakan sosok dari keluarga yang kurang mampu. Sejak kecil ia terbiasa hidup mandiri untuk membiayai hidupnya.

Untuk itu, setelah beberapa tahun menjadi anggota Polri tepatnya di tahun 2006, ia mulai menampung anak-anak terlantar dan anak kurang mampu dirumahnya. Ia pun mengaku selalu membawa dalam doa nya.

Pada tahun 2006, Yunus menikah. Istrinya, Ny Marselina Wunda Bali menolak keberadaan belasan anak dirumah mereka karena hidup mereka pun masih serba kekurangan karena hanya mengandalkan gaji Yunus Labba sebagai anggota Polri.

Namun dalam perjalanan waktu, anak-anak panti makin banyak dan ia pun benar-benar kesulitan keuangan terutama untuk biaya makan anak-anak panti. Yunus pun bekerja sampingan diluar tugas sebagai anggota Polri yakni menjadi manager keamanan di sebuah pusat perbelanjaan.

Gaji dari pekerjaan sampingan ini bisa menopang kebutuhan dapur dan kebutuhan sekolah anak-anak panti.

Yunus dan istri pun mengelola panti asuhan ini secara swadaya. Perlahan-lahan beberapa rekannya mulai mengulurkan bantuan untuk anak-anak panti asuhan.

Saat ada donatur atau dermawan yang datang membantu, Yunus tidak malu menggambarkan kondisi panti asuhan dan kebutuhan anak-anak terutama bahan makanan dan pakaian serta kebutuhan sekolah.

Di panti asuhan tersebut, Yunus tidak sekedar menampung dan merawat anak-anak namun seluruh anak-anak wajib disekolahkan.

Ia juga giat mencari donatur sehingga anak-anak panti juga disekolahkan di sekolah favorit. Upaya ini membuahkan hasil. Beberapa anak panti bahkan mewakili provinsi NTT mengikuti olimpiade sains baik didalam maupun luar negeri.

Yunus mengaku akan merasa berdosa jika ada anak panti yang tidak bersekolah. Dalam pengelolaan panti ini, Yunus pun selalu terbuka meminta masukan dari rekan-rekannya.

Ia pun disarankan untuk mendaftarkan panti asuhannya sehingga mendapatkan legalitas dari pemerintah dan anak-anak panti pun berhak mendapatkan perhatian dari pemerintah.Yunus pun tidak mau egois.

Ia kemudian mengurus seluruh persyaratan sehingga pada tahun 2017, panti asuhannya mengantongi SK kementerian Hukum dan HAM dan mendapat ijin dari Dinas Sosial Kota Kupang.

ia mengaku dalam membina 49 orang anak panti, terkadang ia kesulitan makanan dan minuman. Namun ia bersyukur karena banyak perhatian dan bantuan dari berbagai pihak baik secara perseorangan maupun perkumpulan dan lembaga.

Untuk bangunan panti, Yunus mengajukan pinjaman di bank dengan menggandaikan SK sebagai anggota Polri. Kelanjutan pembangunan panti asuhan ini dihentikan sementara sambil Bripka Yunus Labba mencari pinjaman di bank untuk melanjutkan pembangunan gedung tersebut.

Yunus memiliki mimpi besar bahwa panti asuhannya bisa menampung 300 anak panti, walaupun ia mengaku kesulitan bahan makanan dan pakaian serta biaya pendidikan bagi anak-anak panti.[win]

Editor
: Imanuel Lodja

Tag:

Berita Terkait

Nusantara

Sejumlah Pejabat Polres Belu Bergeser

Nusantara

Warga Bakunase-Kupang Soroti Judi Sabu Ayam dan Minta Optimalkan Pos Polisi

Nusantara

32 Anggota Polda NTT Dapat Penghargaan Kapolda NTT

Nusantara

Impian Jadi Polisi Terwujud Melalui Prestasi Olahraga

Nusantara

Sejumlah Wakapolres dan Perwira di Jajaran Polda NTT Dimutasi

Nusantara

BREAKING NEWS: Istri Jenderal Hoegeng Meriyati Roeslani Meninggal Dunia di Usia 100 Tahun, Dimakamkan Rabu