digtara.com | KUPANG – PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) menghentikan seluruh kegiatan penyeberangan ke seluruh kepulauan di wilayah Nusa Tenggara Timur, Senin (6/1/2020).
Penghentian ini sehubungan dengan cuaca ekstrem yang menyebabkan tingginya gelombang laut di kawasan tersebut. Berdasarkan laporan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, tinggi gelombang mencapai 4 meter.
Kepala BMKG Stasiun Maritim Kupang, Ota Thalo kepada wartawan mengakui tinggi gelombang di perairan Nusa Tenggara Timur mencapai 2,5 meter hingga 6 meter, sehingga pelayaran antar pulau di wilayah NTT harus ditutup. Nelayan pun dihimbau untuk tidak melaut.
Ketinggian gelombang dari batas normal terjadi di wilayah Selat Sape, Selat Sumba bagian barat dan timur, Samudera Hindia Selatan Sumba dan Sabu, Laut Sawu, perairan Samudera Hindia Selatan Kupang dan Rote Ndao, dan perairan Kupang dan Rote.
“Ketinggian gelombang itu berkisar empat sampai enam meter. Gelombang enam meter terjadi di sekitar Samudera Hindia Selatan Kupang dan Rote Ndao dan Samudera Hindia Selatan Kupang Sabu yang mencapai enam meter. Untuk Selat Sape, Selat Sumba, laut Sawu dan perairan Selatan Kupang Rote itu berkisar 2,5 meter,” urai Ota Tahlo.
Menurutnya, pemicu gelombang tinggi diakibatkan pola tekanan terendah di Selatan wilayah Nusa Tenggara Timur serta dua pola siklon yang terjadi di Arafuru dan Australia.
Pelabuhan fery Bolok Kupang di Desa bolok Kecamatan Kupang Barat Kabupaten Kupang sejak Minggu 5 Januari 2020 terlihat kosong.
Kapal-kapal fery untuk penyeberangan antar pulau yang biasa ditambatkan di dermaga tersebut sudah dievakuasi ke Hansisi Pulau Semau Kabupaten Kupang, untuk berlindung dan menghindari kerusakan akibat dihantam gelombang.
Nemuel Pingak (45), warga asal Kabupaten Rote Ndao yang hendak kembali ke Rote Ndao dengan kapal fery pun tertahan selama beberapa hari di pelabuhan Bolok Kupang sambil menunggu jadwal kapal saat cuaca kembali normal.
Ia dan keluarga pun terpaksa tidur dan menginap di terminal keberangkatan pelabuhan fery Bolok karena tidak mempunyai keluarga di Kupang untuk tinggal sementara.
Mereka sekeluarga baru kembali mengikuti acara keluarga dan hendak pulang ke Kabupaten Rote Ndao namun karena ketiadaan jadwal pelayaran ke Kabupaten Rote Ndao maka ia dan keluarga terpaksa tidur di pelabuhan sambil menunggu jadwal pelayaran kembali normal.
Ia mengaku kalau penumpang yang hendak berangkat dengan kapal fery baru bisa berlayar di akhir pekan ini.
[AS]