digtara.com - Indonesia mencatatkan sejarah baru pada ajang SEA Games 2025 yang digelar di Thailand. Kontingen Merah Putih sukses mengunci posisi runner-up klasemen akhir, sebuah pencapaian yang menegaskan kebangkitan mental juara atlet Indonesia di level Asia Tenggara.
Prestasi ini sekaligus menjadi tonggak penting dalam perjalanan olahraga nasional, sekaligus bahan refleksi serius untuk menatap tantangan yang lebih besar di tingkat Asia dan dunia.
Pengamat olahraga nasional, Fritz Simanjuntak, mengapresiasi pencapaian tersebut, namun mengingatkan bahwa keberhasilan ini tidak boleh hanya dilihat dari deretan angka di papan klasemen.
Menurutnya, SEA Games 2025 menjadi sinyal positif bahwa pembinaan olahraga Indonesia berada di jalur yang tepat, tetapi masih menyisakan banyak pekerjaan rumah untuk menjaga konsistensi prestasi di level internasional yang lebih kompetitif.
Baca Juga: Hoki Indoor Putra Sumbang Emas di SEA Games 2025, Indonesia Tembus 88 Medali Emas Rekor Bersejarah Indonesia di SEA Games 2025Dalam SEA Games 2025 Thailand, Indonesia mengoleksi 91 medali emas, 112 perak, dan 130 perunggu, yang mengantarkan Merah Putih menempati posisi kedua klasemen akhir.
Capaian ini menjadi yang pertama dalam 30 tahun terakhir Indonesia mampu finis sebagai runner-up saat tidak berstatus tuan rumah. Sebelumnya, prestasi serupa terakhir kali diraih pada SEA Games 1995 di Chiang Mai, Thailand.
Tak hanya itu, raihan 91 medali emas juga memecahkan rekor emas terbanyak Indonesia di luar negeri. Rekor sebelumnya dicatat pada
SEA Games 1993 Singapura dengan 88 medali emas.
"Sangat bagus. Kita perlu mengapresiasi pencapaian para atlet, pelatih, ofisial, dan seluruh pemangku kepentingan olahraga nasional," ujar Fritz kepada ANTARA di Jakarta, Sabtu.
Jangan Terlena, Fokus ke Target Lebih Tinggi
Baca Juga: PSSI Targetkan Timnas Indonesia Raih Emas SEA Games 2025, Begini Peluang dan Tantangannya Meski mengapresiasi hasil tersebut, Fritz menegaskan agar euforia tidak membuat seluruh elemen olahraga nasional terlena. Ia menilai
SEA Games seharusnya menjadi batu loncatan, bukan tujuan akhir pembinaan prestasi.
Perhatian utama harus diarahkan pada kesiapan Indonesia menghadapi agenda besar seperti Asian Games 2026 Aichi–Nagoya dan Olimpiade 2028 Los Angeles, yang memiliki standar persaingan jauh lebih tinggi.
Sorotan pada Cabang Terukur: Renang dan Atletik
Fritz secara khusus menyoroti performa cabang olahraga terukur, terutama renang dan atletik, yang selama ini menjadi indikator utama kualitas fisik dan teknik atlet suatu negara.
Menurutnya, dua cabang ini tidak hanya berfungsi sebagai lumbung medali, tetapi juga menjadi tolok ukur kesiapan atlet Indonesia untuk bersaing di level Asia dan dunia.
Evaluasi terhadap catatan waktu dan performa teknis menjadi keharusan mutlak. Di tingkat internasional, selisih sepersekian detik dapat menentukan lolos tidaknya atlet ke final, bahkan meraih medali.
Baca Juga: Kalahkan Singapura, Thailand Tim Pertama Lolos ke Semifinal Piala AFF 2024
"Harus dipersiapkan secara serius. Tahun depan ada Asian Games 2026 di Aichi–Nagoya, dan Olimpiade 2028 Los Angeles juga sudah semakin dekat. Catatan waktu atlet harus cukup untuk lolos, dan kalau memungkinkan, bersaing meraih medali," tegas Fritz.