digtara.com | MEDAN – Sibanggor Julu adalah nama salah satu desadi Kecamatan Puncak Sorik Marapi, Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Sekitar480 kilometer dari Kota Medan, ibukota provinsi Sumatera Utara.
Desa yang sudahberusia ratusan tahun itu berada tepat dibawah kaki Gunung Sorik Marapi.Sehingga sehari-hari, suhu udara di desa tersebut terasa begitu sejuk,khususnya di pagi dan malam hari.
Nama Sibangor Julu berasal dari bahasa Mandailing yangberarti hangat-hangat kuku. Seolah mendeskripskan udara yang sejuk dengankeberadaan Aek Milas atau Sungai Milas (aliran air panas) yang membelah desatersebut. Kehidupan warganya pun seolah bersatu bersama aliran air panas yangjernih itu.
Masyarakat di Sibanggor Julu juga terus menjaga kelestarian budaya mereka. Budaya yang menyatu dengan kearifan semesta. Seperti tergambar jelas dengan material atap di setiap rumah. Yakni berupa ijuk yang ditumpuk-tumpuk. Pemilihan ijuk sebagai atap sudah berlangsung sejak lama. Ijuk dipilih bukan tanpa alasan. Selain mempertahankan warisan leluhur, ijuk yang difungsikan sebagai atap memiliki peran lain.
Model rumah di Desa Sibanggor Julu yang sangat menyatu dengan kearifan semesta (instagram)
Kawasan ini berjarak cukup dekat dengan Gunung Sorik Merapi. Pada waktu-waktu tertentu, hujan abu belerang kerap turun ke desa. Dengan menggunakan ijuk, masyarakat tidak perlu khawatir karena material ini lebih tahan lama dan kuat terhadap hawa belerang tersebut, dibandingkan seng atau plat besi. Selain itu, penggunaan ijuk sebagai atap juga diyakini membuat suhu rumah menjadi hangat pada saat musim hujan, dan dingin pada saat musim kemarau. Demikian seperti dilansir Travelingyuk.
[TRVY/AS]