Aksi Massa di Depan Polda NTT Anarkis, Pintu Gerbang Roboh Dijebol Massa

Imanuel Lodja - Rabu, 10 Desember 2025 18:17 WIB
ist
Wakapolda NTT memantau proses perbaikan pintu gerbang pasca dirusak dan dijebol massa pendemo, Rabu (10/12/2025)

digtara.com -Puluhan warga yang menuntut keadilan atas kematian Lucky Renaldy Kistian Sanu dan Delfi Yuliana Susana Foes menggelar aksi di depan Mapolda NTT, Rabu (10/12/2025) siang.

Massa ini terdiri dari keluarga korban, keluarga tersangka, BEM Nusantara, GMKI dan massa lainnya. Mereka datang dengan mobil pick up dilengkapi pengeras suara. Mereka juga membawa serta beberapa poster dan spanduk.

Di depan Mapolda NTT, perwakilan massa melakukan orasi yang berisi seruan dan tuntutan agar kematian Lucky dan Delfi diusut tuntas.

"Tidak cukup menjadikan dua orang menjadi tersangka. Ada pelaku utama yang harus dijadikan tersangka. Tersangka utama ini saat ini masih bebas berkeliaran dan bahkan ada di Jakarta. Harus tangkap dia," teriak salah satu perwakilan massa.

Baca Juga: Usai Rekonstruksi, Polda NTT Limpahkan Berkas Perkara Pembunuhan Mahasiswa di Kupang

Saat aksi berlangsung, pintu gerbang Polda NTT setinggi dua meter lebih nampak tertutup. Pengamanan di depan Mapolda NTT dipimpin Kabag Ops Polresta Kupang Kota, AKP Messakh Hetharia dan Kasat Sabhara, AKP Stef Bessie serta Kapolsek Kota Raja, AKP Lefrid Mada.

Pengamanan juga dilakukan Polsek Kota Raja dan diback up anggota Polda NTT. Polisi membiarkan massa menyampaikan berbagai orasi mereka.

"Kami datang minta keadilan. Kami minta penyidik yang menangani ini tangkap tersangka utama. Tidak cukup dengan dua tersangka saja yang saat ini sudah ditahan," ujar kerabat Lucky.

Perwakilan dari GMKI Kupang menegaskan kalau kedatangan mereka bersama keluarga korban adalah yang keempat kalinya. Mereka menyebutkan akan terus melakukan aksi sampai tuntutan mereka dipenuhi Polda NTT.

Massa juga menuntut untuk bertemu dengan Kapolda NTT, Irjen Pol Rudi Darmoko. Pertemuan dengan Kapolda NTT tidak bisa dilakukan karena Kapolda NTT sedang melakukan kegiatan lain di Polresta Kupang Kota.

Baca Juga: Tinjau Pos Siskamling Wetabua-Alor, Dirbinmas Polda NTT Serahkan Sarana Pendukung Keamanan Lingkungan

Pihak Polda NTT diwakili Direktur Intelkam Polda NTT berusaha menenangkan massa dan menawarkan agar perwakilan massa bertemu Wakapolda NTT, namun tawaran tersebut ditolak.

Suasana mulai memanas karena mereka tidak bertemu Kapolda NTT. Sejumlah perempuan peserta aksi maju kedepan mendorong pagar besi dibantu kaum pria peserta aksi.

Sempat terjadi aksi saling dorong dengan aparat kepolisian. Massa kemudian membakar ban bekas dan material lainnya tepat di pintu masuk Mapolda NTT sehingga menimbulkan asap hitam tebal.

Aksi dorong dari luar pagar oleh massa terus berlangsung. Aparat kepolisian berusaha bertahan agar massa tidak masuk dan menawarkan agar mereka diwakilkan oleh perwakilan massa agar diterima Wakapolda NTT.

Namun massa yang sudah emosi kembali mendorong pagar pintu gerbang secara kasar dan kuat. Pagar pun roboh dan rusak. Polisi berusaha mundur guna menghindari kontak fisik dengan massa karena barisan terdepan diisi massa perempuan.

Jebolnya pagar pintu gerbang membuat massa makin semangat. Para perempuan peserta aksi mulai naik ke pagar besi yang sudah roboh. Sebagian naik ke tembok sambil membentangkan poster dan spanduk.

Baca Juga: Polda NTT Dapat Predikat “Menuju Informatif” di Anugerah Keterbukaan Informasi Publik 2025

Perwakilan massa tetap melakukan orasi. Massa tetap memaksa masuk dan membakar ban bekas. Para perempuan peserta aksi malah melontarkan kata-kata tidak pantas kepada polisi dan mereka aksi mereka. "Kalian tidak pantas jadi polisi," teriak seorang perempuan peserta aksi.

Kabag Ops Polresta Kupang Kota berusaha menenangkan dan melakukan negosiasi, namun tawaran tersebut ditampik mentah-mentah. Mereka menuntut seluruh peserta aksi diijinkan masuk dan harus bertemu Kapolda NTT.


Direktur Intelkam Polda NTT dan Kabid Propam Polda NTT juga turun tangan dan menawarkan kalau Wakapolda NTT bersedia menerima perwakilan massa.

Setelah proses negosiasi, massa pun menerima tawaran untuk menyampaikan aspirasi diwakili perwakilan.

Perwakilan terdiri dari koordinator BEM Nusantara, GMKI, orang tua korban, orang tua tersangka dan beberapa perwakilan massa. Sementara peserta aksi yang lain menunggu di luar pagar depan Mapolda NTT.

Wakapolda NTT, Brigjen Pol Baskoro Tri Prabowo didampingi Direktur Reskrimum, Kombes Pol Patar Silalahi, Direktur Intelkam, Kombes Pol Surisman, Kapolresta Kupang Kota, Kombes Pol Djoko Lestari dan Kabid Propam Polda NTT, AKBP Muhammad Andra Wardhana menerima perwakilan massa di lobi lantai 1 Polda NTT.

Baca Juga: Usai Rekonstruksi, Polda NTT Limpahkan Berkas Perkara Pembunuhan Mahasiswa di Kupang

Dalam dialog ini, Wakapolda NTT menyampaikan bahwa penerimaan oleh Kapolda dan Wakapolda tidak berbeda.

"Intinya ada penyampaian aspirasi dan kita cari solusinya. Tidak harus kalian menuntut untuk ketemu Kapolda NTT," ujar Wakapolda NTT.

Jenderal bintang satu ini pun menyampaikan kekecewaannya dengan aksi anarkis massa yang merusak pagar depan Mapolda NTT. "Saya kecewa. Seharusnya kalian menyampaikan aspirasi dengan santun dan bukan dengan merusak fasilitas negara yang ada Polda NTT. Kami akan terima kalau kalian datang menyampaikan keluhan kalian secara baik," ujar Wakapolda NTT.

Hal yang sama disampaikan Kabid Propam Polda NTT. Ia menegaskan kalau keberadaan sarana di Mapolda NTT adalah merupakan fasilitas negara yang harus dijaga dan dirawat oleh semua pihak.

Kabid Propam pun menjelaskan kalau penempatan anggota terutama anggota Propam di depan dan sekitar Polda NTT saat aksi merupakan bentuk pelaksanaan tugas dan tanggung jawab.

"Keberadaan anggota bukan menghalangi niat kalian tetap menjaga agar suasana tetap aman dan kalian lancar menyampaikan aspirasi," tandasnya.

Baca Juga: Tinjau Pos Siskamling Wetabua-Alor, Dirbinmas Polda NTT Serahkan Sarana Pendukung Keamanan Lingkungan

Ia juga menyayangkan aksi anarkis massa berujung pada pengrusakan pintu gerbang Polda NTT. "Ini bukan budaya kita, sampaikan aspirasi secara baik dan kami pasti merespon secara baik. Jangan dengan kekerasan," ujarnya.

Kabid minta agar penyampaian aspirasi harus santun dan sopan serta perlu dengan dialog bukan aksi anarkis. "Cari solusi bukan dengan menimbulkan permasalahan baru," tegas Kabid Propam.


Polda NTT enggan mencari pelaku pengrusakan, tetapi menghimbau agar aksi dilakukan dalam koridor demokrasi tanpa ada kekerasan dan tindakan pengrusakan fasilitas.

Sebagai solusinya, Wakapolda NTT menawarkan agar peserta aksi dan polisi sama-sama memperbaiki kerusakan dan membersihkan sisa material yang dibakar di depan Mako Polda NTT.

Tawaran ini diterima peserta aksi. Usai pertemuan, peserta aksi langsung mendirikan kembali pagar yang sudah roboh dan memperbaiki kerusakan. Mereka pun membersihkan sisa ban dan material yang dibakar.

Pertemuan di depan Mapolda NTT tersebut diakhiri dengan doa bersama dan komitmen untuk sama-sama menjaga fasilitas yang ada.

Baca Juga: Usai Rekonstruksi, Polda NTT Limpahkan Berkas Perkara Pembunuhan Mahasiswa di Kupang

Editor
: Arie

Tag:

Berita Terkait

Peristiwa

NTT Jadi Lumbung Jagung Nasional, Kapolda NTT Pimpin Panen Raya Jagung Kuartal IV 2025

Peristiwa

Didukung ICITAP, Polda NTT dan Lembaga Terkait Bahas masalah TPPO di NTT

Peristiwa

Pimpin Sertijab PJU dan Dua Kapolres, Kapolda NTT Juga Lantik Kombes Nova Irone Surentu Jadi Direktur PPA Dan PPO

Peristiwa

Dari Sumsel, Maluku, NTT Dan Maluku Utara, Brigjen Pol Murry Mirranda 'Jenderal Pegiat Sosial' Kini Menyandang Bintang Satu di Bangka Belitung

Peristiwa

Penyandang Disabilitas di Manggarai Timur Dapat Bantuan dari Kapolda NTT

Peristiwa

Kerja Tak Kenal Lelah, Kapolda NTT Apresiasi Tim SAR Gabungan Dalam Pencarian Korban Kapal Tenggelam