digtara.com – Tolak intervensi dan investasi asing, puluhan mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di Jalan Jamin Ginting, Simpang Jalan Iskandar Muda, Kota Medan, Selasa (20/10/2020) siang. Puluhan Mahasiswa Jalan Kaki
Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi Suara Rakyat Medan (SURAM), melakukan aksi unjuk rasa dengan berjalan kaki mulai dari depan pintu satu USU menuju Lapangan Merdeka, Kota Medan.
“Jadi ini gabungan dari mahasiswa kemudian pemuda dan ada juga pelajar. Isu yang diangkat itu tolak intervensi dan investasi asing maupun lokal. Jadi ini akan terhubung dengan maraknya saat ini isunya Omnibus Law atau cipta kerja karena itukan mengarah kepada investasi juga,” ujar Gery salah satu peserta unjuk rasa kepada digtara.com.
Ia menambahkan, pada dasarnya masyarakat tertipu dengan adanya kehadiran korporasi di negeri ini.
Tertipu dengan jaminan hidup lebih baik, tertipu dengan punya uang banyak.
Padahal sejatinya tidak ada satu pun keuntungan yang diperoleh masyarakat dengan kehadirannya korporasi (Perusahaan).
Baca: Tolak Omnibus Law, Ratusan Mahasiswa ‘Ziarah’ ke DPRD Sumut
“Karena orang tidak akan mungkin selamanya bekerja di pabrik. Buruh yang bekerja di pabrik ketika dia sudah tidak terpakai maka kemungkinan dia tidak tahu lagi akan berbuat apa. Padahal saat dia bekerja di pabrik dia sudah menggantungkan dan mengikat hidupnya ke pekerjaan pabrik,” ungkapnya.
Rugikan Rakyat
Lebih lanjut, Gery menuturkan prinsip kapitalisme yaitu eksploitasi, akumulasi, dan ekspansi. Korporasi juga membutukan yang namanya investasi agar tetap berdiri kokoh dengan kekuatan modal dari kapitalis lain. Kapitalisme dengan korporasinya mengeksploitasi sumber daya alam yang ada hingga hancur hanya demi keuntungan segelintir orang.
“Lalu hasil akumulasi keuntungan yang didapat itu akan digunakan lagi untuk mengekspansi wilayah lain dengan mengatur pabrik yang baru. Korporasi ini tidak akan mati walau akumulasi yang didapatnya kecil. Sementara rakyat yang nyata asli warga setempat hanya menjadi karyawan (budak) di negerinya sendiri, untuk itu kita harus menolak kapitalisme, korporasi, dan investasi hadir di negeri ini,” tegasnya.
Menurutnya, dengan hadirnya korporasi dan dengan dalih pembangunan ini sangat berimbas ke tanah rakyat, atau sawah para petani yang digusur dan dihilangkan.
Jadi jelas alat prodksi pertanian (sawah) hilang berganti menjadi pabrik. Karena petani telah kehilangan tanah dan beralih profesi menjadi budak baru di pabrik.
“Lalu pertanyaannya dimana posisi negara? Justru Negara lah yang melindungi orang kaya dan para korporat untuk menghisap masyarakat. Misalnya dengan segala peraturan dan undang-undang yang keluar berpihak terhadap korporat, dengan alat keamanan dan media yang mereka punya melakukan represif dan teror terhadap masyarakat yang memprotes. Lalu apakah kita hanya terus menerus diam, padahal jelas kita ini korban,” kata Gery.
Baca: Cek! Link Download Lima Versi File PDF Omnibus Law UU Cipta Kerja
Pantauan digtara.com, para peserta aksi mulai meninggalkan simpang Iskandar Muda menuju ke Lapangan merdeka, dengan membentangkan spanduk yang bertuliskan tuntutan mereka.
Aksi para pengunjuk rasa yang melakukan jalan kaki ini membuat lalu lintas macet, tak seorang pun pihak kepolisian yang berjaga di lokasi.
Saksikan video-video terbaru lainnya hanya di Channel Youtube Digtara TV. Jangan lupa, like comment and Subscribe.
Tolak Intervensi Dan Investasi Asing, Puluhan Mahasiswa Jalan Kaki ke Lapangan Merdeka